Bram berpeluh keringat. Gemeretak giginya memberitahukan tiap
dinding ruang bersalin, bahwa ia begitu tak tenang. Bram ingat keadaan
istrinya yang akhir-akhir ini stress karena sesuatu hal yang tak dia
mengerti, membuat perasaanya bercampur aduk. Banyak sebenarnya yang
ingin ia tanya. Ada apa dibalik semua rasa stress yang menghinggapi
istrinya di masa kehamilannya? Dua orang anak telah dianugerahkan pada
mereka dengan lancar dan tanpa hambatan.
Dikehamilan istrinya yang menjelang sembilan bulan kehamilan,dokter menyarankan istrinya untuk caesar. Itu yang membuatnya was-was.
Empat jam berlalu, teriakan sang bayi pun memecah ruang bersalin Rumah Sakit Harapan II Bekasi. Tawa bahagia menggema, bertabur pelukan Bram dan seluruh keluarga. Bram bersujud syukur seketika.
Bram melihat bayi perempuan cantik telah berada di samping istrinya yang masih terlihat pucat, namun penuh kebahagiaan menyelimuti wajahnya.
“Alhamdulillah, anak kita lahir selamat. Apa kabar Dik?” Bram menggendong putrinya yang masih merah berbalut kain biru polos. Anaknya begitu sehat, tak perlu dikhawatirkan kesehatannya seperti yang semula dipikirkannya.
“Alhamdulillah Mas. semua baik saja. Anak kita cantik ya Mas?.” Widuri menimpali.
Bram dan Widuri memberinya nama Pesvita Maharani. Dengan panggilan Vita. Bram pekerja keras, sangat bertanggung jawab terhadap keluarga. Namun, Widuri merasa tak bahagia dengan kehidupannnya yang sangat monoton. Ia merasakan penolakan terhadap sikap Bram yang terlalu menyibukan diri dengan aktivitas di kantornya.
****
HP Widuri berkali-kali memancarkan sinar dari layarnya. Memang sudah terbiasa Widuri selalu mensilent telepon genggamnya di malam hari. Dia tak mau mengganggu kebersamaan mereka saat di rumah. Apalagi dengan hadirnya putri ketiga mereka yang memang sangat sensitive terhadap bunyi. Sangat manja.
Bram meraih HP istrinya dan didapatinya 50 misscall dan 3 pesan terlihat di sana. Tak pernah sebelumnya Bram membuka hal pribadi seperti itu. Mengorek apa yang ada dalam HP istrinya. Namun kali ini dia merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi. Sering dia bermimpi buruk tentang keluarganya yang mengganggu kenyamanannya dalam tidur.
Di sana hanya terdapat miscall dari satu orang bernama Maharani, ketiga pesannya pun dari Maharani. Hanya dalam wantu 3 jam saja Maharani itu misscall 50 kali, berarti sudah hampir 15 menit sekali mencoba menelpon istrinya. Bram pun membuka pesan yang terpampang di sana.
“Sayang, bagaimana keadaanmu? Bagaimana putri kita?” SMS pertama yang membuat Bram gemetar, begitu banyak sembilu menusuk hatinya. Ada semacam godam telah memukul dada yang kini terasa sesak. Sangat singkat.
Pesan yang kedua pun hampir bernada sama.
“Sayang, bagaimana keadaanmu? Baik sajakah? Mengapa tak kau balas pesanku? Setidaknya angkatlah telpon barang sebentar, aku rindu kamu, aku ingin mendengar suara anak kita.” Bergemuruh hati Bram. Dentuman yang begitu kejam, entah berasal darimana seolah menghentikan aliran darahnya!
“Kamu sudah tidur ya? Nanti hubungi aku ya. Good night my lovely wife. Love you with my soul and all my heart.”
Tangan Bram mengepal. Gemetar. Hatinya murka terbakar amarah yang bisa kapan saja meledak. Kakinya melangkah keluar kamar dimana istri dan anaknya telah tertidur pulas. Ditekannya nomor yang bernama Maharani.
“Halo Beb, apa kabar? Bagaimana Vita anak kita? Aku rasa dia akan sangat mirip denganku. Sudah tidurkah tadi? Kamu capek ya sayang?” Suara dari seberang sana mengalir begitu runtun penuh kemesraan.
Begitu kagetnya Bram ketika mengetahui bahwa Maharani adalah seoarang lelaki.
“Maaf, kau ini siapa? Memanggil istri saya dengan Beb? Dan apa maksud kau dengan memanggil Vita sebagai anak kalian, kau ini siapa?” Bram mencoba tenang walau telah bergemuruh pilu dalam "seluruh" dirinya. Ingin rasanya ia mencaci maki sejadi-jadinya orang asing yang telah berani masuk dalam kehidupan keluarganya.
‘Bram!!!!” Suara dari ujung telpon sana spontan terkaget begitu mendengar ucapan Bram.
“Iyah! Kau tau siapa saya? Siapa kau? Jelaskan apa maksud semua sms yang kau kirim pada istriku?” Bram penuh emosi.
“ Saya Irfan, suami Widuri.” jawab Irfan dengan sedikit suara gemetar.
Irfan sebenarnya tak begitu mengenal Bram. Mereka pun belum pernah bertemu. Hanya saja, Widuri telah banyak bercerita tentang suaminya yang bernama Bram. Walau sebenarnya sudah mengetahui Widuri telah menikah dan mempunyai dua orang anak. Cinta mereka tetap saja tumbuh dan memutuskan untuk menikah siri. Tanpa sepengetahuan Bram. Irfan adalah teman kerja Widuri satu perusahaan.
“Apa kau gila! Saya suami sahnya. Suami yang telah 7 tahun berada di sampingnya dan kami telah mempunyai 3 buah hati. Dan kau bilang kau suaminya? Kau sungguh tidak waras bung!.” bentak Bram.
‘"Maafkan saya, tapi kami telah menikah siri tanpa sepengetahuan anda. Widuri adalah istri saya yang sah. Dan saya pun suaminya,” jawab Irfan.
“Kau gila! Seorang istri tak bisa menikah dua kali apa lagi dengan perkawinan pertama yang baik-baik saja, tanpa perceraian. Dimana kau ini? Saya ingin kita bicara berhadapan sebagai seorang lelaki.” Bram menghardik dengan amarah yang meledak. Suaranya begitu menggaung di ruang tamu saat malam telah beranjak hening.
Widuri terbangun dan menuju ruang di mana suara Bram berada.
“Ada apa Mas? koq suaramu keras sekali?” tanya widuri dengan sedikit berbisik mencoba mengingatkan Bram akan suaranya yang begitu nyaring.
Bram membalik badannya, terlihat wajah Bram yang memerah padam dengan nafas yang begitu memburu. Matanya melotot ke arah Widuri yang menatap polos.
Dada widuri langsung tersentak seperti terhimpit, setelah melihat Bram membalik dengan menggenggam kencang Hp di tangan kirinya.
Bram spontan membanting Hp di atas lantai dan berserakanlah Hp Widuri.
“Siapa Maharani yang telah berkali-kali menelponmu dan mengirimkan sms padamu dengan kata-kata sayang?” Bram mendekat ke arah Widuri dan menatapnya nanar tajam.
Widuri gemetar. Lututnya seperti tak bertulang, runtuh dunia seakan menimpanya saat itu pula.
“Dia… dia….” Suara Widuri tecekat di tenggorokan. Tak mampu ia berkata apa-apa. Dia melihat amarah Bram yang baru pertama kali ini dilihatnya.
“Dia suamimu? Suami apa? Kau istri sah ku selama 7 tahun. Kita mempunyai tiga keturunan. Tidak!!!! Cuma dua. Bajingan itu bilang Vita anaknya. Bagaimana mungkin?” cerca Bram membelalak Widuri.
“Kau tahu, haram dan sangat berdosa seorang istri bersuami dua. Kau tahu itu? Apa kekurangan suamimu ini hingga kau mencari suami yang lain?” Bram masih meluapkan amarahnya.
“Jawab!!” Nada Bram meninggi diringi bantingan vas bunga di atas lantai.
“Aku….” jawab Widuri dengan penuh kekuatan yang ia keluarkan.
“Apa? Jawablah! jangan cuma sepatah dua kata bicara.” bentak Bram.
“ Irfan suamiku. Kami menikah setahun yang lalu di Jakarta. Tanpa sepengetahuan mas. Kami saling menyayangi. Dan ingin mengikatnya dalam suatu hubungan yang suci. Memang benar Vita adalah anak kami. Dia darah daging Irfan. Bukan anak kita. Mas selama ini sudah tak peduli denganku, mas selalu pulang malam. Aku kehilangan perhatian mas. Irfan datang menawarkan perhatian dan sayangnya.” Bela Widuri dengan tangis mengiring.
“Kau gila!” hardik Bram.
“Mas boleh bilang aku gila, tapi ini nyata. Aku telah gila, karena mas sudah tak perhatian dengan keluarga kita lagi.” sela Widuri meninggi.
“Kau bukan seorang wanita. Widuri!” Bram geram.
Vita mulai menangis. Kedua anak mereka yang lain saat itu sedang berlibur di rumah nenek mereka di Bandung. Di rumah hanya ada mereka bertiga, Bram, Widuri dan Vita. Widuri menuju kamar dan mencoba menenangkan Vita.
Bram mengikuti Widuri ke dalam kamar. Bram tak dapat menahan amarahnya memandang bayi yang bukan darah dagingnya, tapi hasil perselingkuhan istrinya dengan suami barunya. Bram tak habis pikir mengapa semua itu bisa terjadi. Tapi tekanan darahnya tak menurun, malah semakin tinggi saja saat melihat Widuri menggendong "anak" bayinya dan coba menenangkannya.
“Aku sebenarnya tak ingin semua terjadi mas. makanya sudah 2 kali aku mengalami keguguran. Itu lebih dikarenakan aku takut terhadapmu. Tapi Irfan meyakinkanku. Cinta kami menyakinkanku bahwa kami bisa.” ucap Widuri tanpa menatap Bram.
Sesungguhnya hatinya bergemuruh takut akan tindakan yang akan dilakukan Bram. Tapi ia hanya ingin mengeluarkan semua yang ada.
“Kau tak punya hati Widuri. Kau berdosa besar terhadap suami dan anak-anakmu!” Bram mendekat dan merebut Vita dari gendongan Widuri.
“Aku akan bawa bayi ini. Takkan aku rela dia ada disini. Di rumahku.” Dengan bergegas Bram membawa Vita keluar dari rumah, Widuri mencoba melarangnya dan mengikuti dari belakang.
“Mas tolong jangan bawa anakku, mau dibawa kemana Vita, mas?” tanya widuri sesenggukan menangis.
“Kau tak perlu tau!.” kilah Bram.
“Mas aku mohon jangan lukai dia.” Widuri berhasil meraih kaki Bram. Ia memeluk mencoba menahan langkah Bram.
“Lepas! Aku bisa pastikan. Kita semua takkan bisa melihat anak ini.” Bram mengancam.
Ia berhasil melepas pelukan Widuri di kakinya, lalu menghilang di kegelapan malam.
“Maaas... tolong kembalikan Vita.” Widuri tak mampu berjalan. Pecahan vas bunga yang telah Bram pecahkan telah membuat kakinya penuh luka berdarah dan tak mampu menapakkan kaki. Walau hatinya begitu perih, tapi ia tak mampu mengejar Bram yang entah telah menghilang kemana.
***
Pukul sembilan pagi, warga Bekasi Timur digegerkan dengan kematian Widuri yang memutuskan urat nadi pergelangan tangan kirinya dengan pecahan beling yang ada di sampingnya. Kakinya pun berlumuran darah. Sedang tak didapati warga anak yang baru dilahirkan Widuri tiga hari yang lalu. Pun Bram, suaminya di sana.
Kebahagiaan itu tidak bersyarat, karena ia adalah sebuah hak yang diperintahkan untuk dimenangkan. Begitupun dengan ketidakbahagiaan, yang merupakan penolakan terhadap yang telah terjadi. Mungkin kata itulah yang tak dimengerti Widuri hingga ia mencari kebahagiaan di luar keluarga yang telah dibinanya bersama Bram.
Dikehamilan istrinya yang menjelang sembilan bulan kehamilan,dokter menyarankan istrinya untuk caesar. Itu yang membuatnya was-was.
Empat jam berlalu, teriakan sang bayi pun memecah ruang bersalin Rumah Sakit Harapan II Bekasi. Tawa bahagia menggema, bertabur pelukan Bram dan seluruh keluarga. Bram bersujud syukur seketika.
Bram melihat bayi perempuan cantik telah berada di samping istrinya yang masih terlihat pucat, namun penuh kebahagiaan menyelimuti wajahnya.
“Alhamdulillah, anak kita lahir selamat. Apa kabar Dik?” Bram menggendong putrinya yang masih merah berbalut kain biru polos. Anaknya begitu sehat, tak perlu dikhawatirkan kesehatannya seperti yang semula dipikirkannya.
“Alhamdulillah Mas. semua baik saja. Anak kita cantik ya Mas?.” Widuri menimpali.
Bram dan Widuri memberinya nama Pesvita Maharani. Dengan panggilan Vita. Bram pekerja keras, sangat bertanggung jawab terhadap keluarga. Namun, Widuri merasa tak bahagia dengan kehidupannnya yang sangat monoton. Ia merasakan penolakan terhadap sikap Bram yang terlalu menyibukan diri dengan aktivitas di kantornya.
****
HP Widuri berkali-kali memancarkan sinar dari layarnya. Memang sudah terbiasa Widuri selalu mensilent telepon genggamnya di malam hari. Dia tak mau mengganggu kebersamaan mereka saat di rumah. Apalagi dengan hadirnya putri ketiga mereka yang memang sangat sensitive terhadap bunyi. Sangat manja.
Bram meraih HP istrinya dan didapatinya 50 misscall dan 3 pesan terlihat di sana. Tak pernah sebelumnya Bram membuka hal pribadi seperti itu. Mengorek apa yang ada dalam HP istrinya. Namun kali ini dia merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi. Sering dia bermimpi buruk tentang keluarganya yang mengganggu kenyamanannya dalam tidur.
Di sana hanya terdapat miscall dari satu orang bernama Maharani, ketiga pesannya pun dari Maharani. Hanya dalam wantu 3 jam saja Maharani itu misscall 50 kali, berarti sudah hampir 15 menit sekali mencoba menelpon istrinya. Bram pun membuka pesan yang terpampang di sana.
“Sayang, bagaimana keadaanmu? Bagaimana putri kita?” SMS pertama yang membuat Bram gemetar, begitu banyak sembilu menusuk hatinya. Ada semacam godam telah memukul dada yang kini terasa sesak. Sangat singkat.
Pesan yang kedua pun hampir bernada sama.
“Sayang, bagaimana keadaanmu? Baik sajakah? Mengapa tak kau balas pesanku? Setidaknya angkatlah telpon barang sebentar, aku rindu kamu, aku ingin mendengar suara anak kita.” Bergemuruh hati Bram. Dentuman yang begitu kejam, entah berasal darimana seolah menghentikan aliran darahnya!
“Kamu sudah tidur ya? Nanti hubungi aku ya. Good night my lovely wife. Love you with my soul and all my heart.”
Tangan Bram mengepal. Gemetar. Hatinya murka terbakar amarah yang bisa kapan saja meledak. Kakinya melangkah keluar kamar dimana istri dan anaknya telah tertidur pulas. Ditekannya nomor yang bernama Maharani.
“Halo Beb, apa kabar? Bagaimana Vita anak kita? Aku rasa dia akan sangat mirip denganku. Sudah tidurkah tadi? Kamu capek ya sayang?” Suara dari seberang sana mengalir begitu runtun penuh kemesraan.
Begitu kagetnya Bram ketika mengetahui bahwa Maharani adalah seoarang lelaki.
“Maaf, kau ini siapa? Memanggil istri saya dengan Beb? Dan apa maksud kau dengan memanggil Vita sebagai anak kalian, kau ini siapa?” Bram mencoba tenang walau telah bergemuruh pilu dalam "seluruh" dirinya. Ingin rasanya ia mencaci maki sejadi-jadinya orang asing yang telah berani masuk dalam kehidupan keluarganya.
‘Bram!!!!” Suara dari ujung telpon sana spontan terkaget begitu mendengar ucapan Bram.
“Iyah! Kau tau siapa saya? Siapa kau? Jelaskan apa maksud semua sms yang kau kirim pada istriku?” Bram penuh emosi.
“ Saya Irfan, suami Widuri.” jawab Irfan dengan sedikit suara gemetar.
Irfan sebenarnya tak begitu mengenal Bram. Mereka pun belum pernah bertemu. Hanya saja, Widuri telah banyak bercerita tentang suaminya yang bernama Bram. Walau sebenarnya sudah mengetahui Widuri telah menikah dan mempunyai dua orang anak. Cinta mereka tetap saja tumbuh dan memutuskan untuk menikah siri. Tanpa sepengetahuan Bram. Irfan adalah teman kerja Widuri satu perusahaan.
“Apa kau gila! Saya suami sahnya. Suami yang telah 7 tahun berada di sampingnya dan kami telah mempunyai 3 buah hati. Dan kau bilang kau suaminya? Kau sungguh tidak waras bung!.” bentak Bram.
‘"Maafkan saya, tapi kami telah menikah siri tanpa sepengetahuan anda. Widuri adalah istri saya yang sah. Dan saya pun suaminya,” jawab Irfan.
“Kau gila! Seorang istri tak bisa menikah dua kali apa lagi dengan perkawinan pertama yang baik-baik saja, tanpa perceraian. Dimana kau ini? Saya ingin kita bicara berhadapan sebagai seorang lelaki.” Bram menghardik dengan amarah yang meledak. Suaranya begitu menggaung di ruang tamu saat malam telah beranjak hening.
Widuri terbangun dan menuju ruang di mana suara Bram berada.
“Ada apa Mas? koq suaramu keras sekali?” tanya widuri dengan sedikit berbisik mencoba mengingatkan Bram akan suaranya yang begitu nyaring.
Bram membalik badannya, terlihat wajah Bram yang memerah padam dengan nafas yang begitu memburu. Matanya melotot ke arah Widuri yang menatap polos.
Dada widuri langsung tersentak seperti terhimpit, setelah melihat Bram membalik dengan menggenggam kencang Hp di tangan kirinya.
Bram spontan membanting Hp di atas lantai dan berserakanlah Hp Widuri.
“Siapa Maharani yang telah berkali-kali menelponmu dan mengirimkan sms padamu dengan kata-kata sayang?” Bram mendekat ke arah Widuri dan menatapnya nanar tajam.
Widuri gemetar. Lututnya seperti tak bertulang, runtuh dunia seakan menimpanya saat itu pula.
“Dia… dia….” Suara Widuri tecekat di tenggorokan. Tak mampu ia berkata apa-apa. Dia melihat amarah Bram yang baru pertama kali ini dilihatnya.
“Dia suamimu? Suami apa? Kau istri sah ku selama 7 tahun. Kita mempunyai tiga keturunan. Tidak!!!! Cuma dua. Bajingan itu bilang Vita anaknya. Bagaimana mungkin?” cerca Bram membelalak Widuri.
“Kau tahu, haram dan sangat berdosa seorang istri bersuami dua. Kau tahu itu? Apa kekurangan suamimu ini hingga kau mencari suami yang lain?” Bram masih meluapkan amarahnya.
“Jawab!!” Nada Bram meninggi diringi bantingan vas bunga di atas lantai.
“Aku….” jawab Widuri dengan penuh kekuatan yang ia keluarkan.
“Apa? Jawablah! jangan cuma sepatah dua kata bicara.” bentak Bram.
“ Irfan suamiku. Kami menikah setahun yang lalu di Jakarta. Tanpa sepengetahuan mas. Kami saling menyayangi. Dan ingin mengikatnya dalam suatu hubungan yang suci. Memang benar Vita adalah anak kami. Dia darah daging Irfan. Bukan anak kita. Mas selama ini sudah tak peduli denganku, mas selalu pulang malam. Aku kehilangan perhatian mas. Irfan datang menawarkan perhatian dan sayangnya.” Bela Widuri dengan tangis mengiring.
“Kau gila!” hardik Bram.
“Mas boleh bilang aku gila, tapi ini nyata. Aku telah gila, karena mas sudah tak perhatian dengan keluarga kita lagi.” sela Widuri meninggi.
“Kau bukan seorang wanita. Widuri!” Bram geram.
Vita mulai menangis. Kedua anak mereka yang lain saat itu sedang berlibur di rumah nenek mereka di Bandung. Di rumah hanya ada mereka bertiga, Bram, Widuri dan Vita. Widuri menuju kamar dan mencoba menenangkan Vita.
Bram mengikuti Widuri ke dalam kamar. Bram tak dapat menahan amarahnya memandang bayi yang bukan darah dagingnya, tapi hasil perselingkuhan istrinya dengan suami barunya. Bram tak habis pikir mengapa semua itu bisa terjadi. Tapi tekanan darahnya tak menurun, malah semakin tinggi saja saat melihat Widuri menggendong "anak" bayinya dan coba menenangkannya.
“Aku sebenarnya tak ingin semua terjadi mas. makanya sudah 2 kali aku mengalami keguguran. Itu lebih dikarenakan aku takut terhadapmu. Tapi Irfan meyakinkanku. Cinta kami menyakinkanku bahwa kami bisa.” ucap Widuri tanpa menatap Bram.
Sesungguhnya hatinya bergemuruh takut akan tindakan yang akan dilakukan Bram. Tapi ia hanya ingin mengeluarkan semua yang ada.
“Kau tak punya hati Widuri. Kau berdosa besar terhadap suami dan anak-anakmu!” Bram mendekat dan merebut Vita dari gendongan Widuri.
“Aku akan bawa bayi ini. Takkan aku rela dia ada disini. Di rumahku.” Dengan bergegas Bram membawa Vita keluar dari rumah, Widuri mencoba melarangnya dan mengikuti dari belakang.
“Mas tolong jangan bawa anakku, mau dibawa kemana Vita, mas?” tanya widuri sesenggukan menangis.
“Kau tak perlu tau!.” kilah Bram.
“Mas aku mohon jangan lukai dia.” Widuri berhasil meraih kaki Bram. Ia memeluk mencoba menahan langkah Bram.
“Lepas! Aku bisa pastikan. Kita semua takkan bisa melihat anak ini.” Bram mengancam.
Ia berhasil melepas pelukan Widuri di kakinya, lalu menghilang di kegelapan malam.
“Maaas... tolong kembalikan Vita.” Widuri tak mampu berjalan. Pecahan vas bunga yang telah Bram pecahkan telah membuat kakinya penuh luka berdarah dan tak mampu menapakkan kaki. Walau hatinya begitu perih, tapi ia tak mampu mengejar Bram yang entah telah menghilang kemana.
***
Pukul sembilan pagi, warga Bekasi Timur digegerkan dengan kematian Widuri yang memutuskan urat nadi pergelangan tangan kirinya dengan pecahan beling yang ada di sampingnya. Kakinya pun berlumuran darah. Sedang tak didapati warga anak yang baru dilahirkan Widuri tiga hari yang lalu. Pun Bram, suaminya di sana.
Kebahagiaan itu tidak bersyarat, karena ia adalah sebuah hak yang diperintahkan untuk dimenangkan. Begitupun dengan ketidakbahagiaan, yang merupakan penolakan terhadap yang telah terjadi. Mungkin kata itulah yang tak dimengerti Widuri hingga ia mencari kebahagiaan di luar keluarga yang telah dibinanya bersama Bram.
By. Umirah Ramata



0 komentar:
Post a Comment