![]() |
| Oleh: Umirah Ramata |
Kemarin, aku sudah tenang bisa melepasmu dengan seluruh hidup. Tapi mengapa sekarang ada suatu kekhawatiran?
Tidak, sekali lagi ... lepaskan aku saja. Ada banyak kejanggalan
dalam hatiku mengelilingi semua ini. Perasaan ingin menyerahkanmu lebih
besar daripada mempertahankanmu. Jika kedinginan mampu menjauhkanmu dari
api yang selama ini berkobar dari dalamnya hatiku, aku akan menyala
membesar, menjadi lautan amarah merah. Agar kau jauh.
Harus menelan seribu keinginan, tapi seperti apa yang
harus aku ucap untuk membuatmu mengerti. Ah, bibirku terlalu kelu untuk
ucapkan itu. Prasangka baikkah? lalu harus aku apakan hujan agar tak
membasahi daun pisang?.
Tentang yang pernah aku katakan, mampukah kau mengerti?
bukan untuk menyakiti ataupun bukan karena tak peduli. Tapi hidupku
lebih nyaman membiarkanmu merajai hidupmu sendiri. Jangan jadikan aku
ratu dalam kerajaan yang penuh tanda tanya. Itukah arti ketulusanmu?
membiarkanku menjadi diriku dalam segala kebimbangan yang mengarungi?.
Surat untuk Drambisyon.
Teruntuk Drambisyon yang menatap bintang selalu ....
Ketika ada kerinduan yang menawanmu, apakah yang kau ingat sebenarnya diriku?
Bagaimana kabarmu saat ini? di saat kedinginan yang menyerangku
membuat semua elemen menolakmu. Patutkan aku katakan itu padamu yang
selalu menginginkanku?.
Drambisyon, mengapa pertemuan yang 'waktu' berikan pada
kita hanya sebentar untuk saling mengenal? saat ini aku masih
meragukanmu dengan semua lakumu. Ucapan rindu yang selalu kau ungkap
dengan cetar, hanya membahana di sekelilingmu saja. Ia tak mampu
membuatku bergetar.
Lalu seperti apa yang aku rasakan padamu, jika saat ini selalu ada
kehambaran yang menerpaku? kehambaran ini seperti udara yang selalu
menyelimuti dalam-dalam dan melekat di setiap sudut ariku.
Drambisyon, apakah ucapku selalu menenangkanmu? sedang
sangat jelas jika kebahagiaan dalam diriku itu selalu muncul saat kau
mengerti bahwa kita takkan pernah menyatu. Pecundangkah aku? kau boleh
katakan apa saja, namun ini isi hatiku.
Jangan memintaku kembali, jika suatu saat aku akan benar-benar pergi, karena satu inginku, aku jauh darimu.
Tetaplah tersenyum memandang taman yang selalu membuatmu nyaman, atau
ambillah putri yang lain mengisi istanamu. Jangan mengharapku, seperti
matahari yang menyadari takkan pernah melihat bintang.
Jadilah desembermu awal yang berujung indah tanpa aku,
di kemudian hari, kita akan bertemu dengan pasangan masing-masing.
Peluk dan sayangku untukmu di peraduan kenyamanan dunia yang terpisah.
Syaki,
Desember 2012



0 komentar:
Post a Comment