Desember untuk Drambisyon

Sunday, August 4, 2013 0 komentar
Oleh: Umirah Ramata
        

     

            Kemarin, aku sudah tenang bisa melepasmu dengan seluruh hidup. Tapi mengapa sekarang ada suatu kekhawatiran?
Tidak, sekali lagi ... lepaskan aku saja. Ada banyak kejanggalan dalam hatiku mengelilingi semua ini. Perasaan ingin menyerahkanmu lebih besar daripada mempertahankanmu. Jika kedinginan mampu menjauhkanmu dari api yang selama ini berkobar dari dalamnya hatiku, aku akan menyala membesar, menjadi lautan amarah merah. Agar kau jauh.
            Harus menelan seribu keinginan, tapi seperti apa yang harus aku ucap untuk membuatmu mengerti. Ah, bibirku terlalu kelu untuk ucapkan itu. Prasangka baikkah? lalu harus aku apakan hujan agar tak membasahi daun pisang?.
            Tentang yang pernah aku katakan, mampukah kau mengerti? bukan untuk menyakiti ataupun bukan karena tak peduli. Tapi hidupku lebih nyaman membiarkanmu merajai hidupmu sendiri. Jangan jadikan aku ratu dalam kerajaan yang penuh tanda tanya. Itukah arti ketulusanmu? membiarkanku menjadi diriku dalam segala kebimbangan yang mengarungi?.



Surat untuk Drambisyon.

Teruntuk Drambisyon yang menatap bintang selalu ....

             Ketika ada kerinduan yang menawanmu, apakah yang kau ingat sebenarnya diriku?
Bagaimana kabarmu saat ini? di saat kedinginan yang menyerangku membuat semua elemen menolakmu. Patutkan aku katakan itu padamu yang selalu menginginkanku?.
             Drambisyon, mengapa pertemuan yang 'waktu' berikan pada kita hanya sebentar untuk saling mengenal? saat ini aku masih meragukanmu dengan semua lakumu. Ucapan rindu yang selalu kau ungkap dengan cetar, hanya membahana di sekelilingmu saja. Ia tak mampu membuatku bergetar.
Lalu seperti apa yang aku rasakan padamu, jika saat ini selalu ada kehambaran yang menerpaku? kehambaran ini seperti udara yang selalu menyelimuti dalam-dalam dan melekat di setiap sudut ariku.
             Drambisyon, apakah ucapku selalu menenangkanmu? sedang sangat jelas jika kebahagiaan dalam diriku itu selalu muncul saat kau mengerti bahwa kita takkan pernah menyatu. Pecundangkah aku? kau boleh katakan apa saja, namun ini isi hatiku.
             Jangan memintaku kembali, jika suatu saat aku akan benar-benar pergi, karena satu inginku, aku jauh darimu.
Tetaplah tersenyum memandang taman yang selalu membuatmu nyaman, atau ambillah putri yang lain mengisi istanamu. Jangan mengharapku, seperti matahari yang menyadari takkan pernah melihat bintang.
              Jadilah desembermu awal yang berujung indah tanpa aku, di kemudian hari, kita akan bertemu dengan pasangan masing-masing.
Peluk dan sayangku untukmu di peraduan kenyamanan dunia yang terpisah.


Syaki,

Desember 2012

0 komentar:

Post a Comment

Followers

 

©Copyright 2011 Rumah Ramata | TNB