KEJUJURAN HATI

Friday, March 14, 2014 0 komentar

“Lari! Lari …!” Lelaki itu berteriak memberi perintah padaku, yang tertegun melihat derasnya darah mengucur dari perutnya.

Aku berlari sekuat tenaga, pohon bambu sepanjang jalan, berhasil menyembunyikan tubuhku dari penglihatan pria yang sekarang aku pikir adalah orang yang tak waras.

***

Tanah gersang dengan guguran daun yang menguning hampir menutupi sebagian bumi. Matahari tak menampakan wujudnya, semua seperti dalam hutan yang tak tahu di mana arah mata angin.

Aku merasa asing di suatu pedesaan yang teramat jarang penduduknya. Entah mengapa aku bisa sampai di sini. Kota apa juga yang telah aku singgahi?

Seorang lelaki menemaniku. Entah siapa pula namanya, namun hadirnya seperti menemani kebingungan yang menggunung di hati. Tersesat, itulah yang kami mengerti untuk perkenalan pertama.

Kami bertanya pada siapa saja yang kami temui di jalan. Kami butuh jawaban, bagaimana jalan pulang ke kota kami.
        
        Orang pertama yang kami temui adalah seorang kakek tua, dengan stelan baju berwarna coklat muda yang lusuh, ia menggendong sebuah cangkul di bahu kirinya. Kami menanyakan bagaimana cara kami bisa kembali ke kota kami. Kakek itu tak menjawab,ia hanya menggeleng. Ia bilang, mendengar nama kota kami saja, ia tak pernah, sepertinya nama kota kami adalah nama negeri antah berantah yang tak pernah ada.
         
        Jalanan yang kami lewati berikutnya adalah jalan yang berbatu berwarna coklat terselimuti lumpur pegunungan. Di samping kanan kiri adalah sawah yang sama sekali tak nampak hijau, coklat pasi. Seperti tak ada kehidupan yang memerlukan pesawahan itu untuk menghidupi manusia.
        
        Kami menapaki jalan yang berlapis batu berwarna hitam, luasnya hanya setapak saja. Kami bertemu dengan seorang pria yang masih muda, perawakannya gempal, mungkin sekitar 27 tahun. Baju hitam dan celana dengan warna yang senada, membuat suatu pandangan tersendiri bagiku. Hitam legam rambutnya begitu menyatu dengan kulit putihnya yang terawat.

Kami bertanya tentang kota kami, ia berpikir sejenak, lalu menggambarkan sebuah peta bulat tak sempurna di tembok sebuah gedung tua. Di antaranya ada sekat-sekat yang ia buat. Lingkaran hitam itu, ia beri sedikit warna putih dari kapur tulis yang ia pegang.
“Ini adalah peta dunia. Di sini adalah tempat kami, kita ada di sini.” Terangnya membuka dialog, setelah lama ia membiarkan kami mengeja peta yang ia buat di dinding tembok yang tak begitu putih.
Ia meletakkan telunjuk kirinya di bagian atas sebelah kanan.
“Di sini adalah kota Homby.” Tatapnya begitu tegas seperti meminta pengertian pada kami.
        
       Ia menyebutkan satu persatu nama kota di antara sekat-sekat tengah bulatan yang ia buat. Tak ada nama kota kami di antaranya, walau ia telah menyebutkan semua nama kota dalam peta itu.

Ia membuat lagi sebuah bulatan kecil di luar gambar yang ia buat bulat sebelumnya, yang ia namakan dunia.
“Mungkin di sini tempat kalian.” Ia letakkan telunjuk kanannya di sana.
“Jarak yang kalian tempuh sangatlah jauh.” Sambungnya.

Kami mengangguk mengerti dan menangkap keterangan pria itu, bahwa kota kami ada di bagian bawah kanan di luar dunia.

***
Suasana sepi, tak kudengar lagi suara dedauanan terinjak. Mataku awas menatap sekeliling dengan degupan jantung kencang yang coba aku stabilkan.

Lelaki itu, aku lihat sudah tak bergerak dengan warna baju yang sama. Aku segera meraih tubuhnya, aku melihat tatapan matanya begitu bahagia menemukanku kembali. Senyum yang ia paksakan keluar melalui sabit bibirnya, tak berhasil membuatku membalas senyumnya.

Tampak lesung pipitnya menyapa aliran darahku. Butir-butir halus menetes begitu deras dari mataku menyentuh pipinya yang pasi.

“Tidak, jangan menangis! Aku bahagia bisa melihatmu sebelum aku pergi.” Jemarinya yang bergetar mencoba mencapai pipiku untuk mengusap air mata yang meluncur turun.

“Aku tak mau kamu pergi. Tetaplah bersamaku.” Dadaku berguncang hebat, antara mau dan tak mau kehilangan. Sebentar bersamanya, ia telah begitu melekat di hatiku.

“Yakinlah kita akan bertemu kembali di suatu masa dan tak akan pernah ada lagi perpisahan, karena tempatmu ada di sini.” Tangan kiri yang berlumuran darah diletakkannya di dada sebelah kiri.

Aku tak mengerti padanya, mengapa ia begitu percaya dengan semua hal di masa depan, padahal nyata sekali bahwa nyawanya akan dibawa sang malaikat yang mungkin saja sudah berdiri di sampingnya.

Hening, nafasnya terbang bersama hembusan angin yang tiba-tiba menyetuh bulu-bulu di kulit ariku. Tubuhnya lemas, jemarinya perlahan dingin dan lemah.

Dari jarak 10 meter, aku melihat orang yang melukai lelakiku masih memegang parang yang penuh darah. Ia mulai tersenyum dan berjalan mendekat. Kuletakkan jasad yang berambut cepak itu.

Tanpa membuang waktu, aku berlari tanpa menengok ke belakang lagi. Wajah pria itu sangat jelas terekam dalam retina mataku. Aku berlari dan mencoba memberikan kekuatan tenaga dalam untuk kakiku yang sudah begitu lelah dengan perjalanan sedari pagi tadi.

***

Anak-anak yang selama ini menampungku di bilik mereka, menyambutku dengan seribu pertanyaan apa yang terjadi. Peluh membasahi seluruh pakaianku. Aku takut, seluruh tubuhku bergetar hebat.

Tak kuhiraukan semua tatapan mata yang tertuju heran padaku. Aku memilih untuk segera masuk kamar menghilangkan ketakutan. Aku tutup pintu dan semua jendela, memastikan kamarku tanpa celah.

Bayangan pria yang tiba-tiba mengeluarkan benda tajam, semacam parang itu muncul di mata terpejamku. Entah di mana ia menyembunyikan benda itu. Secepat kilat, ia melukai teman lelakiku tepat di bagian perutnya, darah muncrat seketika melukis wajah lelaki berwajah sendu itu.

Seringai tawa ditunjukkannya, hausnya seperti terobati menatap darah yang mengucur begitu deras. Sejurus kemudian, teman lelakiku bersimpah darah. Dengan sedikit payah ia mencoba menghalangi pria itu menyabetkan parang dalam genggamannya ke arahku.

 ***

Mentari sudah mulai menyinari dedaunan kering yang jatuh di pelataran, saat kulihat sepasang suami istri setengah baya duduk di teras rumah mereka. Berbalut stelan bercorak batik coklat muda seolah menyatu dengan alam, mereka tersenyum ramah.

Entah keberanian yang muncul dari mana, tapi aku menanyakan kembali tentang dimana keberadaan kotaku.
“Kotamu ada di mana-mana, Nak. Kotamu ada di dirimu. Di hatimu. Jangan pernah membohongi hatimu dan jangan bohongi dirimu sendiri dari perasaanmu,” ucapnya begitu bijak tanpa senyum yang lepas dari wajahnya, “Pelarianmu tentang kejujuran hatimu adalah kota ini, anakku. Jujurlah pada hatimu, jangan bohongi dirimu sendiri.” Pria setengah baya itu tersenyum penuh arti, lalu memandang istrinya.
         
       Entah mengapa aku begitu lega mendengar jawabannya. Aku melangkah masuk lagi ke dalam persinggahan untuk memberitahukan anak-anak yang sama tersesatnya denganku. Namun, sesaat aku membalikkan badan, mereka semua tersenyum seolah mendengar perkataan Bapak itu.

Kami saling tersenyum bahagia, senyum seperti sebuah kesepakatan tanpa diucap dengan kata. Terpancar sinar-sinar yang lembut dari wajah mereka. Kupejamkan mata dengan menghela napas panjang.
        ***

“Kamu mau kan menikah denganku, Rasi?” Herman mengagetkaknku.
Tak pelak, itulah yang kuinginkan darinya selama ini. Hidup berdampingan dengan seorang yang mapan, tampan dan ….
“Rasi, sayang. Kamu baik saja kan?” Herman berhasil membuat bola mataku kembali fokus padanya.
Aku terdiam sesaat, menatap matanya dalam-dalam.
“Tidak, Herman. Maafkan aku.” Lancar sekali ucapan itu dari mulutku, dan membuat Herman mengerutkan dahi.
       
        Sebingung apapun Herman mendengar pernyataanku, yang pasti aku lega. Memilih kejujuran di hati. Melepas Herman yang memang hanya aku manfaatkan untukm membiayai seluruh kehidupanku selama ini tanpa pernah mencintainya..

Di luar Café yang transparan oleh kaca jendela yang penuh, kulihat sekelebat pria dengan stelan baju hitam tersenyum. Berjalan beriring dengan seorang pria yang berambut cepak. Dengan lesung pipit yang sangat khas. Sangat aku kenal.
“Dia tak mati! Dia hidup!” Sorakku dalam hati membalas senyum mereka.



Oleh: Umirah Ramata

0 komentar:

Post a Comment

Followers

 

©Copyright 2011 Rumah Ramata | TNB