Bonsai dan Bunga Nia

Monday, November 25, 2013 0 komentar
Masih ingat malam itu, Bonsai, dengan lancar dan terdengar berulang-ulang memetakan semua kenangannya di tengah malam. Dan aku, dengan selimut tebal membungkus badan, ceritanya bagai nina bobo cinderela. Tentu tak ada nyamuk, mungiin saja nafasnya terdengar sangat kuat di telinga mereka. Karena tawanya, pastinya sedikit, entahlah ... mungkin getir yang mampu aku bayangkan, perlahanlahan menusup di sana. Antara seringai tawa.

Aku jadi membayangkan, duduk di sampingnya memandang bulan. Entah apakah bintang mampu kami lihat juga saat itu. Yang pastinya, malam itu, adalah waktu bagiku dan bonsai duduk memandangi masa lalunya yang berjalan ke sana ke mari, dari awan putih yang satu, ke awan putih lainnya.
Aku bisa melihat sesekali seringai giginya. Hanya sebentar, karena ia memandangku dengan aekejap saja. Lalu berpaling menatap Nia-nya yang bergelantungan di langit. Aku melihat Nia melambaikan tangannya, tersenyum membalas tatapan mata kami. Satu persatu seperti mengartikan semua tanda koma yang aku dan bonsai cipta.

Sesekali Nia tertunduk lalu kembali menatap kami. Tak lama, ia menangis dan terduduk di gumpalan awan itu. Sedang Bonsai? Ah, aku tak mau melihatnya. Aku sangat yakin, ia pun sedang melakukan hal yang sama dengan Nia.

Bonsai berlarian mengejar waktu. Ia bertanya tanpa menoleh ke arahku, jam berapa sekarang?
Aku pun tak mau melihatnya, hanya berucap jam dua belas tiga puluh, menatap jam tangan yang bisa aku tekan tombol sinar, sehingga dari dalamnya memancar sedikit cahaya.
Bonsai terdiam sejenak. Lalu bertanya lagi, kamu sudah mengantuk?
Aku hanya senyum, menghembuskan kuat nafas dari hidungku. Seharusnya dia tahu apa terjadi padaku. Duduk di sampingnya, mendengar ceritanya, dan mencoba menghitung seberapa luka yang diucapkannya. Tapi sudahlah, aku akhirnya hanya mampu bilang, lanjutkan ceritamu, Sai, aku akan dengarkan.
Bonsai tertawa pelan. Entah seperti apa rautnya sekarang. Ia lalu bercerita dengan sedikit tersendat, namun masih ia coba selancar mungkin berucap. Mungkin saja, ia ingin aku tak memaknai ucapannya itu dengan sedih. Ya, tapi aku rasa, Bonsai pun mengerti, perempuan lebih bisa menebak suasana dari nada suara seorang lelaki.

Aku diam, saat ia berucap, aku patah hati. Namun, kalimat berikutnya, membuatku mengikuti alurnya. Tawa dalam artian entah. Ia bilang : Mungkin saja, jika saat itu aku disembelih, pastinya tak akan keluar darah, Mi.
Aku tentu saja tergelitik, tertawa, menutupi wajahku dengan seluruh selimut tebalku.
Aku biarkan Bonsai mendengar tawaku. Bukan untuk mengejeknya, tapi aku ingin dia mengerti, kalau aku, sangat suka bahasa terakhir itu. Ungkapan seorang lelaki yang benar-benar patah hati. Dan ucapannya itu tertuang dari seorang penggemar bonsai yang pemalas. :-D. Ups! Ucapan dari seorang pelukis abstrak dan seorang penyair dari aliran abstrak pula, mungkin.  Just be youself, Bonsai.

****

Keesokan harinya, aku melihat Bonsai jalan bergandengan dengan seorang gadis. Berpelukan pinggang dan melambaikan tangannya di pekarangan rumahku. Silau cahaya permata yang memancar dari sela-sela jemari manis mereka, membuatku menyipitkan sedikit penglihatanku.
Aku tersenyum, dengan tanya tak terungkap. Itu Nia-mu yang baru, atau Nia lamamu telah kembali, Bonsai?

Oleh: Umirah Ramata

0 komentar:

Post a Comment

Followers

 

©Copyright 2011 Rumah Ramata | TNB