![]() |
| Oleh : Umirah Ramata |
Riuh pejalan kaki memadati area
Station kereta api Changhua. Beberapa taksi dengan warna kuning cerah terparkir
berderet, menunggu penumpang. Seperti yang direncanakan kemarin, aku akan
menemui Danar siang ini, di sini. Menemui Danar adalah suatu kebahagiaan
tersendiri bagiku. Danar yang mirip dengan Doni Sibarani, vokalis Ada Band itu
adalah kekasih yang sudah menemaniku selama 1 tahun terakhir. Seorang mahasiswa
jurusan teknik mesin di salah satu universitas Taiwan.
Terik mentari yang
tepat di ubun-ubun, tak lebih seperti cahaya rembulan yang lembut dan dingin.
Rasa senang yang aku rasa, mengubah sorot mentari yang menyengat menjadi angin
semilir sejuk yang membungkus badan.
Danar mengajakku ke tempat sahabatnya,
tak jauh dari Station. Hari ini adalah janjinya untuk membelikan aku sebuah
sepeda.
“Yakin…? Kita beli sepeda di sini?” tanyaku ragu.
“Iya.” tawa khasnya menyeringai dengan tatapan tanpa dosa, seperti menelanjangi kekesalanku atas jawabannya.
“Yakin…? Kita beli sepeda di sini?” tanyaku ragu.
“Iya.” tawa khasnya menyeringai dengan tatapan tanpa dosa, seperti menelanjangi kekesalanku atas jawabannya.
Dahiku mengernyit mendengar jawaban
Danar. Yang aku tahu, kami akan menemukan berbagai barang bekas di tempat
sahabatnya itu. Karena sahabatnya, Ari, bekerja di tempat jual beli barang daur
ulang di dekat station Changhua.
Danar hanya tersenyum, menatap wajahku
yang penuh tanya dan sedikit cemberut dengan keputusannya yang akan
membelikanku sepeda bekas seharga 250 Nts. Padahal, sepeda yang biasa aku
pinjam untuk belanja adalah sepeda yang dibeli sahabatku dengan harga 2500 Nts,
dengan kondisi baru. Aku hanya memandangi Danar yang sibuk mengecek semua sepeda
bekas yang ditunjukan Ari.
Di setiap sudut tempat yang tak
beratap itu, aku melihat beberapa tumpukan barang yang mengunung. Hanya
beberapa tempat yang mempunyai atap berupa seng, yaitu tempat yang ada beberapa
bangku kecil dikelilingi berbagai perkakas yang tergeletak berserakan. Aku
yakin, itu adalah perkakas yang biasa dipakai Ari untuk memisahkan bagian
materil yang berbeda, dari besi, plastik hingga baja. Aku seperti berada dalam
pemukiman liar yang kumuh di Jakarta.
*****
Taman yang tak begitu besar dan cukup indah, telah kami masuki. Harum bunga melati langsung menyergap penciumanku. Di sisi kanan jalan berbatako satu meter itu, dipenuhi tanaman melati. Di samping kiri, ada tembok setinggi satu meter sebagai pemisah aliran sungai. Danar mengajakku menyeberang jembatan, menuju sisi lain dari taman yang lebih luas dengan hamparan rumput hijau.
Danar menghentikan sepedanya, menyandarkannya di sebuah pohon beringin kecil didekat jembatan, lalu mengeluarkan tiga buah kaleng cat pilok dan beberapa lembar koran bekas dari tas gendong hitam miliknya. Ada yang berwarna hitam, merah dan pink.
“Kamu akan mewarnai sepeda ini dengan warna favoritku?” tanyaku agak heran, juga gembira, setelah mengetahui apa isi tas hitamnya.
Taman yang tak begitu besar dan cukup indah, telah kami masuki. Harum bunga melati langsung menyergap penciumanku. Di sisi kanan jalan berbatako satu meter itu, dipenuhi tanaman melati. Di samping kiri, ada tembok setinggi satu meter sebagai pemisah aliran sungai. Danar mengajakku menyeberang jembatan, menuju sisi lain dari taman yang lebih luas dengan hamparan rumput hijau.
Danar menghentikan sepedanya, menyandarkannya di sebuah pohon beringin kecil didekat jembatan, lalu mengeluarkan tiga buah kaleng cat pilok dan beberapa lembar koran bekas dari tas gendong hitam miliknya. Ada yang berwarna hitam, merah dan pink.
“Kamu akan mewarnai sepeda ini dengan warna favoritku?” tanyaku agak heran, juga gembira, setelah mengetahui apa isi tas hitamnya.
“Yap!” Senyumnya mengembang dengan mata
berbinar.
“Aku ingin kamu tahu, bagaimana perjuangan
mencapai sebuah impian.” lanjutnya, tanpa menatapku.
“Maksudmu?” tanyaku tak mengerti apa arti ucapannya.
“Kalau aku belikan sepeda baru, tentu kamu akan merasakan sepeda itu biasa saja, tanpa kesan. Hanya sebuah sepeda baru, hadiah dariku, tak lebih seperti sepeda baru lainnya.” Jawabnya datar, sementara tangannya masih mengelap beberapa bagian sepeda, “Aku ingin, saat kau mengendarai ini, kau akan selalu ingat bagaimana kita berdua bersusah payah menyulap sepeda ini, dari sebuah sepeda bekas yang murahan, menjadi sebuah sepeda unik, menarik dan begitu nyaman untuk dikendarai, seperti yang kita mau.”
Pandanganku masih menikmati bunga lavender dan mawar yang tumbuh dikelilingi bebatuan, membentuk sekumpulan gambar hati. Aku masih tak peduli dengan penjelasan Danar tentang alasan mengapa ia membelikanku sepeda bekas itu. Aku hanya mengangguk, pura-pura mengerti perkataannya.
“Maksudmu?” tanyaku tak mengerti apa arti ucapannya.
“Kalau aku belikan sepeda baru, tentu kamu akan merasakan sepeda itu biasa saja, tanpa kesan. Hanya sebuah sepeda baru, hadiah dariku, tak lebih seperti sepeda baru lainnya.” Jawabnya datar, sementara tangannya masih mengelap beberapa bagian sepeda, “Aku ingin, saat kau mengendarai ini, kau akan selalu ingat bagaimana kita berdua bersusah payah menyulap sepeda ini, dari sebuah sepeda bekas yang murahan, menjadi sebuah sepeda unik, menarik dan begitu nyaman untuk dikendarai, seperti yang kita mau.”
Pandanganku masih menikmati bunga lavender dan mawar yang tumbuh dikelilingi bebatuan, membentuk sekumpulan gambar hati. Aku masih tak peduli dengan penjelasan Danar tentang alasan mengapa ia membelikanku sepeda bekas itu. Aku hanya mengangguk, pura-pura mengerti perkataannya.
“Bersepeda mengajarkan kita untuk
tak boleh kalah dan menyerah pada kegagalan.” Danar mengerti benar, jika aku
butuh sebuah penjelasan panjang lebar untuk dapat menerima suatu keputusan yang
tak cocok denganku.
“Maksudnya?” Aku semakin tak mengerti, juga penasaran.
“Kau ingat? Sewaktu kecil, apa yang pertama kali kau coba kendarai? Ketika kau belajar mengayuh sepeda, kau harus membuatnya seimbang menahan tubuhmu dan terus mengayuhnya agar sampai pada tujuanmu,” Danar menatapku, “Walau sering kau terjatuh, kau harus terus mencobanya. Kau ingat, berapa banyak luka yang menggores kakimu untuk perjuangan itu? Bagaimana pedihnya luka goresan itu? Tapi karena keinginanmu yang kuat untuk bisa bersepeda, kau tak pernah kenal kata menyerah.”
Danar menyemprotkan bagian pelek depan dan belakang dengan warna pink. Bagian tengah dengan warna merah. Sedangkan setir, ia semprot dengan warna hitam. Begitupun dengan keranjang depan.
“Kau ingin menuliskan sesuatu pada keranjangnya, Lessi?” tanya Danar, menyadarkanku yang terkagum-kagum melihat kreasinya.
“I Love You.” jawabku tersenyum. Sebuah ucapan yang benar-benar tulus, keluar dari lubuk hatiku yang terdalam.
Danar pun membalas senyumku. Ia menyemprotkan huruf “I” di bagian kiri keranjang. Gambar hati di bagian depan, dan huruf “U” di bagian kanan. Danar memilihkan warna pink untuk menulisnya.
Angin semilir berhembus, menyibak rambut Danar yang tak begitu panjang. Parasnya yang kalem memberi sedikit naung dalam hatiku yang terpapar sinar siang itu.
“Satu yang harus kau pahami, hidup ini seperti mengayuh sepeda. Untuk mencapai tujuanmu, kau harus mengayuhnya sampai ke sana. Ia tak butuh yang lain untuk membuatnya mampu sampai ke tujuanmu, tidah butuh bensin atau solar. Tapi hanya dirimu! Kakimu! Semangatmu untuk mengayuh! Dia hanya butuh perawatan.” Danar menjelaskan dengan tegas.
“Ketika berpapasan dengan angin, membuatmu harus lebih kuat mengayuhnya. Seperti hidup, tujuanmu adalah impianmu. Sepeda adalah belajar dan aksimu. Inti dari semuanya adalah dirimu. Bagaimana semangat dan usaha mencapai impianmu. Dan perawatannya adalah rasa tak menyerahmu pada kegagalan. Untuk sukses, kau harus mengasah dirimu, kembali dan kembali. Itu adalah pelajaran yang bisa kita ambil dari mengayuh sepeda. Kalau kamu tidak bersungguh-sungguh mengayuhnya, maka kau tak akan pernah bisa sampai pada tujuanmmu.” Tatapanku berbinar memandang senyum terkembangnya, aku benar-benar kagum. Pancaran sinar kasat mata kami menyiratkan arti, bahwa kami telah sepaham.
Itulah sebabnya aku begitu mencintai dan mengagumi Danar. Dia begitu dewasa dan pemapar semangat yang ulung bagi hidupku. Keharuman melati ditaman ini seolah menyatu, membentuk dirinya yang utuh dengan segala telentanya. Pemain gitar dengan suara merdu yang tak tersaingi. Imajinasi liarnya, mencipta kata-kata indah menjadi puisi. Pun kata bijaknya adalah petuah mutiara.
****
Perjalanan rutin ke taman itu, menjadi hal yang terindah buat kami. Saat Danar mengayuh sepeda kesana, aku biasa berdiri di belakangnya. Dikedua sisi roda belakang, ada sepasang besi sepanjang sepuluh cm, yang sengaja kami pasang untuk menempatkan kedua kakiku di atasnya.
Dada Danar seperti bidang baja yang sangat kuat melawan angin. Raga kami seperti dua tenaga dalam yang melawan kerasnya kehidupan. Memeluknya dari belakang, memberiku suatu kenyamanan yang tercipta. Aku bebas menciumi rambutnya, menjadikanku hafal benar dengan harum dan maskulin tubuh Danar.
****
Tanjakan yang kami lalui, seperti lonjakan semangat untuk tak pernah menyerah pada mimpi. Pun seperti sekarang, saat aku tak bersamanya lagi. Sepeda cinta itu selalu mengingatkanku arti kehidupan yang tak boleh berhenti dikayuh. Syukurku seperti daun yang tak pernah berhenti berzikir. Bersyukur karena telah mengenal Danar, menempatkan dia menjadi bagian hidup dan hatiku.
“Maksudnya?” Aku semakin tak mengerti, juga penasaran.
“Kau ingat? Sewaktu kecil, apa yang pertama kali kau coba kendarai? Ketika kau belajar mengayuh sepeda, kau harus membuatnya seimbang menahan tubuhmu dan terus mengayuhnya agar sampai pada tujuanmu,” Danar menatapku, “Walau sering kau terjatuh, kau harus terus mencobanya. Kau ingat, berapa banyak luka yang menggores kakimu untuk perjuangan itu? Bagaimana pedihnya luka goresan itu? Tapi karena keinginanmu yang kuat untuk bisa bersepeda, kau tak pernah kenal kata menyerah.”
Danar menyemprotkan bagian pelek depan dan belakang dengan warna pink. Bagian tengah dengan warna merah. Sedangkan setir, ia semprot dengan warna hitam. Begitupun dengan keranjang depan.
“Kau ingin menuliskan sesuatu pada keranjangnya, Lessi?” tanya Danar, menyadarkanku yang terkagum-kagum melihat kreasinya.
“I Love You.” jawabku tersenyum. Sebuah ucapan yang benar-benar tulus, keluar dari lubuk hatiku yang terdalam.
Danar pun membalas senyumku. Ia menyemprotkan huruf “I” di bagian kiri keranjang. Gambar hati di bagian depan, dan huruf “U” di bagian kanan. Danar memilihkan warna pink untuk menulisnya.
Angin semilir berhembus, menyibak rambut Danar yang tak begitu panjang. Parasnya yang kalem memberi sedikit naung dalam hatiku yang terpapar sinar siang itu.
“Satu yang harus kau pahami, hidup ini seperti mengayuh sepeda. Untuk mencapai tujuanmu, kau harus mengayuhnya sampai ke sana. Ia tak butuh yang lain untuk membuatnya mampu sampai ke tujuanmu, tidah butuh bensin atau solar. Tapi hanya dirimu! Kakimu! Semangatmu untuk mengayuh! Dia hanya butuh perawatan.” Danar menjelaskan dengan tegas.
“Ketika berpapasan dengan angin, membuatmu harus lebih kuat mengayuhnya. Seperti hidup, tujuanmu adalah impianmu. Sepeda adalah belajar dan aksimu. Inti dari semuanya adalah dirimu. Bagaimana semangat dan usaha mencapai impianmu. Dan perawatannya adalah rasa tak menyerahmu pada kegagalan. Untuk sukses, kau harus mengasah dirimu, kembali dan kembali. Itu adalah pelajaran yang bisa kita ambil dari mengayuh sepeda. Kalau kamu tidak bersungguh-sungguh mengayuhnya, maka kau tak akan pernah bisa sampai pada tujuanmmu.” Tatapanku berbinar memandang senyum terkembangnya, aku benar-benar kagum. Pancaran sinar kasat mata kami menyiratkan arti, bahwa kami telah sepaham.
Itulah sebabnya aku begitu mencintai dan mengagumi Danar. Dia begitu dewasa dan pemapar semangat yang ulung bagi hidupku. Keharuman melati ditaman ini seolah menyatu, membentuk dirinya yang utuh dengan segala telentanya. Pemain gitar dengan suara merdu yang tak tersaingi. Imajinasi liarnya, mencipta kata-kata indah menjadi puisi. Pun kata bijaknya adalah petuah mutiara.
****
Perjalanan rutin ke taman itu, menjadi hal yang terindah buat kami. Saat Danar mengayuh sepeda kesana, aku biasa berdiri di belakangnya. Dikedua sisi roda belakang, ada sepasang besi sepanjang sepuluh cm, yang sengaja kami pasang untuk menempatkan kedua kakiku di atasnya.
Dada Danar seperti bidang baja yang sangat kuat melawan angin. Raga kami seperti dua tenaga dalam yang melawan kerasnya kehidupan. Memeluknya dari belakang, memberiku suatu kenyamanan yang tercipta. Aku bebas menciumi rambutnya, menjadikanku hafal benar dengan harum dan maskulin tubuh Danar.
****
Tanjakan yang kami lalui, seperti lonjakan semangat untuk tak pernah menyerah pada mimpi. Pun seperti sekarang, saat aku tak bersamanya lagi. Sepeda cinta itu selalu mengingatkanku arti kehidupan yang tak boleh berhenti dikayuh. Syukurku seperti daun yang tak pernah berhenti berzikir. Bersyukur karena telah mengenal Danar, menempatkan dia menjadi bagian hidup dan hatiku.
Danar lebih dulu meninggalkan dunia ini, tanpa membuatku takut akan kehilangannya. Danar tetap hidup dengan semua kenangan yang ada didalamnya.
Kanker otak yang selama ini ditutupinya dariku, menjadi misteri sang waktu yang tak pernah terbaca. Dia begitu tegar, seperti gagah tubuhnya yang selalu mendekapku dengan nyaman.
Semburat senja tak lagi indah kupandang. Ia hanya seperti erangan kesakitan Danar yang tak pernah aku dengar. Aku sempat mencaci waktu, mengutuki semua kehendak-Nya yang membuat impianku gugur. Hidupku seperti dibawa angin tanpa roh, digentayangkan pada alam tanpa hunian.
Di satu titik bekuku, ketika aku telah sampai pada titik nadir ketabahanku, aku seperti dibangunkan dari tidur panjangku. Danar menyapaku dengan semua petuahnya. Melukiskanku di kanvas langit tentang berbagai bintang pengharapan. Menunjukkanku jalan, menuju impianku di antara berjuta galaksi.
Dear
Lessi,,
Saat
dunia lain membawaku jauh, jangan berhenti menciumi angin.
Aku selalu hadir di setiap aliran air,
membawa kesejukan bagi hatimu.
Dan aku mengabadikanmu di tiap jejak taman surga.
Begitupun harum rambutmu, yang terasa dekat dipenciumanku.
Lalu, sepeda akan kita kayuh menuju peraduan,
mendekati sungai yang mengalir di bawah jembatan.
Karena aku yakin, cinta kita adalah yang tertua dan berumur sangat lama,
bahkan jauh, sebelum zaman tercipta.
Aku selalu hadir di setiap aliran air,
membawa kesejukan bagi hatimu.
Dan aku mengabadikanmu di tiap jejak taman surga.
Begitupun harum rambutmu, yang terasa dekat dipenciumanku.
Lalu, sepeda akan kita kayuh menuju peraduan,
mendekati sungai yang mengalir di bawah jembatan.
Karena aku yakin, cinta kita adalah yang tertua dan berumur sangat lama,
bahkan jauh, sebelum zaman tercipta.
Changhua,
15 january 2013
Aku
lipat kembali surat terakhir yang terselip di buku diary Danar. Ini akan
menjadi memoriku, di kehidupan yang akan aku kayuh kembali tanpa berhenti.
Seperti janjiku pada batu nisan yang belum sempat aku lihat bentuknya.
Takkan lagi aku mengeluh, takkan lagi aku menangis, karena sebutir debupun tak akan kubiarkan merasuk di ujung mataku.
Takkan lagi aku mengeluh, takkan lagi aku menangis, karena sebutir debupun tak akan kubiarkan merasuk di ujung mataku.



0 komentar:
Post a Comment