Surat untuk Ayah

Sunday, August 4, 2013 0 komentar
Oleh: Umirah Ramata




Taipei, 11 Oktober 2012
                                                                             Teruntuk : Ayahanda tercinta dan terkasih
                                                                                     Di tempat yang selamanya indah




Assalamualaikum Wr. Wb

Salam cinta dan rindu yang begitu dalam.
       
              Ayah, telah lama kau meninggalkan kami. Terutama aku yang pertama kali meninggalkanmu. Kami merindumu dan tak putus memberimu do'a dalam setiap sujud. Kau mampu mendengarnya dan merasakan artinya. Itu yang kami mau ayah.
Aku telah menjauh kembali dari darat kelahiranku. Bukan karena aku tak merindunya. Aku masih ingat kau menggendongku saat tangis rengekanku mengudara di setiap sudut rumah. Kau pula yang mencegahku lari dari kenyataan dan meninggalkan cintamu yang begitu besar terhadapku. Aku ingat kau menegarkan aku seperti karang yang takkan rapuh oleh ombak. Ada begitu banyak jejakjejak keanangan mengisi seluruh dinding memoriku.
Tatap matamu yang begitu tajam namun halus aku rasakan. Hitam kulitmu membuatku nyaman dari ketakutan. Kau peredam segalanya ayah, peredam segala emosi jiwa. Tuturmu begitu lantang menggema, benar, kau kehidupan beribu makna.Aku ingin menjemput mimpimu. Mimpi yang sangat kau percayakan padaku. Walau dulu aku tak mengerti artinya.
         Kini aku berdiri di depan gerbang kehidupan. Jalan yang bercabang menunggu jawab langkah kakiku. Lorongnya tak gelap ayah, aku melihatnya penuh sinar. Di sisi persimpangan kanan kulihat warna biru menyelimuti jalan yang tak setapak. Tumbuh liar berbagai putri malu.
Di sisi persimpangan kiri kulihat warna hijau berpias emas. Ia menarik inginku. Ada segudang keinginan menapak jalan yang hijau. Tapi suara menghentikanku menjejak tanahnya. Peri di kiriku berkata itu bukan tujuanku. Peri di kananku mendukung. Seandainya kau masih di sini maka akan aku tanya mana yang harus aku pilih. Aku masih termenung di antara persimpangan. Ku harap kau kan menyampaikan keraguanku padaNya, bahwa aku butuh bimbinganNya.
Kasihmu menelusup ke sendisendi tulangku. Sumsum belakangku mendingin diterpa asa yang tenggelam. Bulir air matamu masih tergambar jelas di cermin mataku. Kau luruh ayah, Sayangmu begitu besar bersarang di pohon kehidupanku.
         Putrimu ini ingin mengatakan sesuatu padamu. Walau sebenarnya aku tahu kau pasti lebih mengerti tentang yang akan kuceritakan.
Beberapa hari ini, aku seolah melihat dirimu. Pada tubuh seseorang yang telah membuatku tak mengerti makna apapun. Entahlah ayah, perasaan macam apa ini. Tapi putrimu ini sangat menyayanginya.
Tegasmu tibatiba kulihat didirinya. Perasaan ini berubah menjadi kerakkerak ketidakpastian. Butuh air hujan membasahi agar tak lagi gersang.
Aku melihat matanya menyimpan misteri. Aku tak mau jawabannya, Pun putrimu ini tak mau tanya. Wajahmu tercopy paste padanya ayah.
         Ayah tetaplah tersenyum. Kami mencintaimu. Aku akan menjaga keluarga kita. Kasih sayang kita. Cinta kita.



                                                                                      Salam rindu, sayang, peluk dan cinta


                                                                                                             Putrimu,
                                                                                                      Umirah Ramata

0 komentar:

Post a Comment

Followers

 

©Copyright 2011 Rumah Ramata | TNB