![]() |
| Oleh: Umirah Ramata |
Taipei, 11 Oktober 2012
Teruntuk : Ayahanda tercinta dan terkasih
Di tempat yang selamanya indah
Assalamualaikum Wr. Wb
Salam cinta dan rindu yang begitu dalam.
Ayah, telah lama kau meninggalkan kami. Terutama aku yang
pertama kali meninggalkanmu. Kami merindumu dan tak putus memberimu
do'a dalam setiap sujud. Kau mampu mendengarnya dan merasakan artinya.
Itu yang kami mau ayah.
Aku telah menjauh kembali dari darat kelahiranku. Bukan karena aku
tak merindunya. Aku masih ingat kau menggendongku saat tangis rengekanku
mengudara di setiap sudut rumah. Kau pula yang mencegahku lari dari
kenyataan dan meninggalkan cintamu yang begitu besar terhadapku. Aku
ingat kau menegarkan aku seperti karang yang takkan rapuh oleh ombak.
Ada begitu banyak jejakjejak keanangan mengisi seluruh dinding memoriku.
Tatap matamu yang begitu tajam namun halus aku rasakan. Hitam kulitmu
membuatku nyaman dari ketakutan. Kau peredam segalanya ayah, peredam
segala emosi jiwa. Tuturmu begitu lantang menggema, benar, kau kehidupan
beribu makna.Aku ingin menjemput mimpimu. Mimpi yang sangat kau
percayakan padaku. Walau dulu aku tak mengerti artinya.
Kini aku berdiri di depan gerbang kehidupan. Jalan yang
bercabang menunggu jawab langkah kakiku. Lorongnya tak gelap ayah, aku
melihatnya penuh sinar. Di sisi persimpangan kanan kulihat warna biru
menyelimuti jalan yang tak setapak. Tumbuh liar berbagai putri malu.
Di sisi persimpangan kiri kulihat warna hijau berpias emas. Ia
menarik inginku. Ada segudang keinginan menapak jalan yang hijau. Tapi
suara menghentikanku menjejak tanahnya. Peri di kiriku berkata itu bukan
tujuanku. Peri di kananku mendukung. Seandainya kau masih di sini maka
akan aku tanya mana yang harus aku pilih. Aku masih termenung di
antara persimpangan. Ku harap kau kan menyampaikan keraguanku padaNya,
bahwa aku butuh bimbinganNya.
Kasihmu menelusup ke sendisendi tulangku. Sumsum belakangku mendingin
diterpa asa yang tenggelam. Bulir air matamu masih tergambar jelas di
cermin mataku. Kau luruh ayah, Sayangmu begitu besar bersarang di pohon
kehidupanku.
Putrimu ini ingin mengatakan sesuatu padamu. Walau
sebenarnya aku tahu kau pasti lebih mengerti tentang yang akan
kuceritakan.
Beberapa hari ini, aku seolah melihat dirimu. Pada tubuh seseorang
yang telah membuatku tak mengerti makna apapun. Entahlah ayah, perasaan
macam apa ini. Tapi putrimu ini sangat menyayanginya.
Tegasmu tibatiba kulihat didirinya. Perasaan ini berubah menjadi
kerakkerak ketidakpastian. Butuh air hujan membasahi agar tak lagi
gersang.
Aku melihat matanya menyimpan misteri. Aku tak mau jawabannya, Pun
putrimu ini tak mau tanya. Wajahmu tercopy paste padanya ayah.
Ayah tetaplah tersenyum. Kami mencintaimu. Aku akan menjaga keluarga kita. Kasih sayang kita. Cinta kita.
Salam rindu, sayang, peluk dan cinta
Putrimu,
Umirah Ramata



0 komentar:
Post a Comment