![]() |
| Oleh: Umirah Ramata |
Bercerita?
Semenjak beberapa hari yang lalu aku bercerita, tapi hanya berbalas hembusan angin.
Tak ada tatapan mata yang mengiyakan mengerti arti bicaraku. Semenjak yang terlalu lama itu membayang seluruh dinding yang mengikuti keteguhan hati, aku lemah. Seutuhnya aku lemah dan ia memberiku napas kedua. Kini aku hanya berdiam, mendiam dari segala yang mengikuti ranah apa saja yang menghuni, bahkan yang lewat berseling tiada senyum sapa.
Berjujur?
Semenjak beberapa hari yang lalu aku telah berjujur, tapi aku kalah. Kalah mengatasi rasa sepi yang mengurungku di penjara kehidupan. Aku jauh terlempar di ujung sudut kedap udara. Ada yang mengaliri senja itu saat tiupan sayang perlahan merasukiku. Tapi apa katanya saat inchi demi inchi wujudnya memangsaku? Dia bilang ia menepatkanku di tawang, mimpi yang pernah ia baca dari lendir-lendir keperihan yang pernah merembas kulitku.
Aku tak yakin ia pernah mengecapnya, tapi lagi-lagi, barisan senyumnya mengalahkan jijikku.
Berbaris?
Semenjak beberapa hari yang lalu aku telah berbaris, berdiri di urutan-urutan kesabarannya. Aku punah, saat itu juga aku merasa lenyap. Kesiap menghantamku, di wajahnya ada sendu yang selalu mengayomi. Tapi aku tak mengenalnya, walau ribuan masa telah aku peluk wujudnya. AKU BUKAN MAUNYA! Setara dengan pakaian yang perlu ia ganti. Aku kecewa di kalimat yang ia ucapkan mencintaiku.
Berteriak?
Semenjak beberapa hari yang lalu aku berteriak, bahkan sang pendengarpun bosan pada titik nadirnya. Tetap saja ia tak menolehku barang untuk melihat setetes saja air mataku. Sesenggukanku pun tak membuatnya berhenti bernyanyi. Aku ini sejati yang hanya butuh disendiri.
Biarlah?
Biar, kata terakhir aku ucapkan pada nanah yang meletus dari luka-luka tanpa teriakan. Lalu aku mengeja barisan kata-kata yang semestinya membuatku tertawa atau pun mengharu biru karena cinta. Selaksanya jujur yang terucap, mampu membuatku menghisap candu ketenangan dan membiarkannya bahagia tanpa sengsara.
Dan di akhir roman, cerita aku tutup dengan seribu makna, penuh misteri.
By. UR



0 komentar:
Post a Comment