Lelaki Terkaya di Hidupku.1

Sunday, December 22, 2013 0 komentar
Seorang lelaki dengan kopiah putih duduk di sampingku. Ia tak coba menatapku dalam-dalam seperti kebanyakan lelaki romantis lainnya. Padahal sungguh, aku sama dengan perempuan lain yang suka dimanja dengan semua sikapnya.
Tapi ia selalu seperti itu. Selalu melepas pandangannya ke arah lain ketika bola mataku menemukan tujuannya yang serupa. Itulah yang membuatku menjadi perempuan paling bahagia. Di antara bunga-bunga kamboja, akulah melati. Yang paling memberi wangi, dan yang paling putih bersih.
Ia lalu menatap lurus ke depan. Menatap bola-bola kecil putih dalam hitungan mili jatuh di pelataran, di samping pohon momijji yang dua bulan lalu memerah daunnya.

Aku yakin, ia tahu. Saat aku meraba seluruh lekuk wajahnya dengan kedua mataku. Dari dahinya yang datar, matanya yang sebenarnya sangat elang, hidungnya yang seperti terjalan tebing menukik landai tegas. Jatuh merunuti bibirnya yang merona merah muda. Ia lelaki, dengan pesona sejati.
Setelah aku dengar degupnya lebih teratur. Dan dengan lembut ia menata nafasnya, ia bertanya, Mengapa kamu memilihku?
Tentu tanpa menatapku, karena aku tahu, saat ia berucap itu, ada banyak kembang api yang berpijar di kedua pipinya.

Aku tersenyum, walau ia tak melihatnya. Dengan pelan, aku jawab,  “Karena kamu adalah aset terbesar dalam hidupku, kamu termasuk jajaran orang-orang yang terkaya di dunia ini.”
Aku ikut menghitung butiran salju yang jatuh sedikit tak vertikal tertiup angin. Satu, dua, tiga, empat ....
“Aku tak mengerti maksudmu, aku tak punya apa-apa, rumah, mobil, aku tak punya, bagaimana kamu bilang aku berada di jajaran orang-orang terkaya di dunia ini?“ Tanyanya sedikit dengan nada heran, tapi tetap tanpa menatapku.

Ingin sekali aku menyentuh pipinya, memangku sejenak dagunya di kedua telapak tanganku, membelai sedikit anak rambut yang jatuh tertidur di dahinya, sambil menjelaskan semua maksudku.
Tapi aku memilih untuk tetap kaku. Dengan napas yang teratur, dan memandang punggungnya. Sampai akhirnya, ia membalikkan badan dan memelukku erat.
Ia lalu berkata lembut di telingaku, terima kasih, karena aku pun telah mempunyai sebuah aset yang tak ternilai, dan dengan memilikimu, aku adalah orang yang paling kaya di dunia ini.

Des,23-2103
Oleh: Umirah Ramata

0 komentar:

Post a Comment

Followers

 

©Copyright 2011 Rumah Ramata | TNB