LELAKIKU

Sunday, August 4, 2013 0 komentar
Oleh: Umirah Ramata


Rambut gimbalnya masih sama, sedikit bergelombang menambah wax di wajah. Bukan garang, dia begitu penuh kharisma. Senyum yang melukis raut takkan membuat orang lupa dengan artinya. Dia masalaluku. Hadir kembali dalam mimpi yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Apa dia merinduku? Aku tahu ada suatu waktu yang bisa membuatnya mengingatku. Walau hanya sedikiiit saja dalam relung hatiinya yang paling dalam, yang aku yakin takkan menimbulkan aroma macam-macam di sekitarnya. Dia teramat menghargai yang ada, begitu banyak disayangi, tak terkecuali keluarga kecil yang telah ia bina sekarang. Dialah tulang punggung keluarga. Ah, siapapun akan bangga terhadap kepribadiannya, walau tak banyak pula memandangnya sebelah mata.

Entah mengapa Ayah begitu menyayanginya. Ada suatu sikap yang jarang Ayah tunjukan pada orang lain selain padanya.
Apa aku menginginkannya hadir kembali dalam waktuku? Tak cukup waktu untuk aku jelaskan dengan kata-kata.

Bukan cinta pertama yang aku rasa. Bukan terindah. Dia cinta penuh tantangan. Tantangan dalam hati yang sangat sabar menghadapi jiwa tak menentu seperti diriku. Dia cinta yang begitu lama menghuni lubuk hati, tak kuhiraukan kehadirannya. Tapi dia memang senyum terindah. Senyum ketulusan di antara kegetiran yang ia rasakan.

Tak mulus perjalanannya mendapatkan perhatian dan sayangku. Keluargaku terlalu mengekang sajakah? atau kedua-duanya?. Keluargaku, aku jawab dengan hati sedikit berat, adik dan ibu. Bagaimana dengan keluarganya? Dia seorang pria, pasti akan dihargai pilihannya. Toh diapun bukan seorang pria yang sembarangan mencari pasangan. Hatinya ditempatkan di atas segala fakta. Mimpinya adalah petunjuk. Dan dialah mimpiku, itu kubilang saat berada di sampingnya merenungi danau yang tak begitu luas di hadapan kami.

Menculikku? Tidak. Dia membawaku ke dunia yang kurasa  memenjarakan walau hanya 1 jam saja. Dia mengikuti keinginanku yang ingin sebentar saja merasakan hangat di sampingnya. Nyaman, itulah yang aku rasakan bersamanya. Dia tak memegang tanganku, tapi lengannya seolah menjagaku dari segala macam bahaya. Aku tak ada di pelukannya, tapi lapangku berjejer dengan bidang dadanya.

Dia lelakiku. Seorang pria yang pernah memberiku rasa nyaman tanpa belaian. Seonggok jiwa yang mematriku terhadap kenangan-kenangan kesabaran. Sesosok pria yang tak pernah kupandang masa depannya namun sangat yakin indah di sisinya.

Dia lelakiku yang direstui oleh lelaki utama dalam hidupku. Dan ia tetap lelakiku yang mangajari kehidupan tanpa bicara. Pun dia sekarang tetap lelakiku, walau raganya sudah tak mungkin kembali melindungi.


Memorie of UR

0 komentar:

Post a Comment

Followers

 

©Copyright 2011 Rumah Ramata | TNB