Ayah Bukan Pembohong

Friday, April 4, 2014 0 komentar
Oleh : Umirah Ramata


“Ayah …!” Aku terduduk dengan begitu banyak peluh di seluruh tubuh. Dadaku naik turun mengikuti detakan menit di jam dinding kamar. Tanganku gemetar, seolah ada banyak yang berlarian dari sebuah sarang di tubuhku, meluncur menyebar ke seluruh bagian pergelangan dan kaki.

“Ada apa, Nanda?” Wajah itu berkerut keningnya, perlahan tersenyum setelah menemukan aku masih terdiam memandang wajahnya.

Ia mendekati ranjang dan mengelus rambut sebahuku dengan pelan. Damai sekali. Sebuah sentuhan yang mampu meluruhkan semua getaran di persendianku.
Aku mendekapnya dengan erat. Sangat erat.

***
“Kita tea time yukh! Ayah telah membuatkan segelas teh aroma apel dan roti panggang dengan selai kacang kesukaanmu.” Ayah mengecup keningku. Bibirnya tertarik ke atas saat menyadari daerah yang ia cium tadi telah basah. Ayah mengusapnya dengan telapak tangannya pelan.

“Jangan lupa cuci muka dan gosok gigi ya. Ayah tunggu di bawah.”
Aku membalas semua ucapannya dengan senyum dan beberapa anggukan tanda setuju dan berterima kasih.

“Jangan lama-lama ya, nanti tehnya keburu dingin.” ingatnya.
Aku mengangguk sekali lagi dan menyibak selimut berwarna gold dengan motif bunga.

Ada yang beda dengan kamarku ini. Tapi teddy bearku masih terduduk di samping bantal pink bergambar hati yang pernah ayah belikan untukku. Masih sama tempatnya. Sama seperti deretan buku-buku novel yang terpajang manis menghiasi pajangan kayu huruf S di dinding sebelah jendela kamarku.

Ah, sudahlah, ini pasti hanya perasaanku saja. Aku takkan mebiarkan tea timeku bersama ayah lenyap begitu saja. Aku bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri.

***
Aku melihat ayah dengan sebuah novel Tere Liye di tangannya. Wajahnya tertunduk begitu takzim membaca novel itu. Sangat berkonsentrasi.
“Terima kasih, Yah.” Aku menyeruput segera teh aroma apel kesukaanku. Nikmat sekali. Ayah tersenyum dan mengangguk.

Sore itu, bunga iris memberi warna tersendiri. bunga yang hamper sebagian besar mengisi taman belakang rumah kami. Bunga kesukaan Bunda dengan warna ungu yang memang favoritnya. Aku bisa merasakan kehadirannya di antara kami. Walau ia telah tiada delapan tahun lalu.

Itulah peninggaln berharga Bunda bagi kami. Ia pernah bilang, bahwa saat ia tiada nanti, ia akan menjelma di antara kami sebagai iris-iris yang menebar wangi dan warna di taman. Bahkan sampai kapanpun, Ia akan selalu tetap ada, walau ketika satu persatu iris jatuh dengan kelayuannya.

“Ayah ingin menunjukkan sesuatu padamu, Nanda.” Ayah menutup novel yang dipegangnya setelah ia memberi sebuah penanda di halaman terakhir yang ia baca.

Ayah beranjak dari kursinya dan berjalan menuju belakang taman rumah kami. Aku mengikuti langkah ayah dengan sedikit bingung. Bukankah, taman kami hanya sekitar dua puluh meter saja ke arah pagar tembok sebagai pembatas rumah kami yang berbatasan dengan pekarangan rumah orang lain?

Aku melihat ayah masih saja melangkah ke depan. Melewati semua rumput hijau yang terpangkas rapi di pijakan tanah. Beberapa kupu-kupu menyapa rambut ayah. Kemeja putih yang kebesaran di badannya melambai tertiup angin sore yang aku rasakan semakin kencang bertiup.

“Kita mau kemana, Ayah?” Akhirnya tanyaku keluar juga menembus rasa penasaranku. Tapi ayah masih saja tetap melangkah dan tanpa menoleh, ia bilang, ikut saja, Ayah akan tunjukkan sesuatu padamu.

Kami semakin jauh melangkah. Masih bunga iris yang berdiri anggun di samping kanan kiri kami. Aku mempercepat jalanku dengan sedkit berlari dan menyamakan langkah di samping kiri ayah. Aku gapai lengannya. Ada getaran yang langsung menembus jantungku. Ia seperti memompa semua detakan menjadi begitu cepat.

Dari kejauhan, aku melihat sebuah rumah kecil dengan pekarangan yang luas di depannya. Sebuah pagar kayu setinggi setengah meter menjadi sebuah petak yang sangat alami.

Semakin mendekat, semakin tegas warna rumah itu, semua berwarna putih, dengan dinding kayu jati dan jendela-jendela penuh bunga. Sebuah pintu berwarna coklat tua menyambut kami. Ayah membukanya perlahan. Dan aku yakin, rumah itu tak terkunci, sehingga ayah mampu membukanya dengan memutar sedikit saja daun pintu.

No. 29? Ada banyak yang mengetuk pikiranku. Aku seperti dibawa oleh sejarah 15 tahun lalu saat aku masih mengenakan sebuah celana kodok dengan kaos biru big size, dituntun ayah membuka pintu bernomor dua puluh sembilan.

“Ini …?”
Sebelum pertanyaanku terlontar dari mulut, ayah seperti membaca pikiranku. Ia hanya tersenyum begitu tulus, dengan lesung pipit yang masih saja bersemayam dengan tegas di kedua pipinya.

“Iya. Ini rumah kita.” Ayah masih berjalan lurus ke depan, menuju kamar belakang. Aku yakin, di sana adalah taman rumah kami.

Semua yang ada dalam ruang tamu. Masih sama. Sebuah meja kayu dengan kursi rotan minimalis tertata rapi masih di tempatnya yang semula. Lukisan ayah dan bunda saat menikah pun masih ada di sana, terpampang dengan sebuah gaun putih yang serasi dengan jas ayah.

Bingkai foto kayu berbagai ukuran menghias lemari di atas perapian dengan berbagai poto kami bertiga, bahkan ketika aku masih berumur dua bulan pun masih terpajang di sana. Tapi, semua kayu berwarna emas. Bukan warna kayu jati seperti kebanyakan. Bukan seperti warna kayu jati aslinya rumah kami. Semewah inikah rumah kita, Ayah?

“Apa yang sedang kamu pikirkan, Nanda?” pikiranku buyar. Satu bingkai poto hampir saja jatuh ke lantai, untungnya aku dengan cepat menggapainya dan meletakkannya kembali ke atas perapian.

“Kemarilah, Ayah ingin menunjukkan sesuatu padamu.” Ayah menggamit tanganku, lalu menuntun dengan memegang kedua bahuku. Tangannya tetap hangat, sama seperti saat tadi ia mengelus keningku. Tangan yang begitu kuat menggempur piciknya kehidupan.

Ayah menuntunku ke halaman belakang rumah kami. Masih utuh keadaannya pula, dengan empat buah kursi rotan mengeliilingi meja bulat kayu dengan sebuah pot bunga berbatu di atasnya. Di sekitarnya masih sama pula dengan bunga-bunga iris bermekaran dimana-mana di tiap ujungnya.

Ayah mendudukkanku di sebuah batu besar sebelah air mancur, yang airnya keluar dari sebuah patung ikan rahwana besar. Ia lalu bejalan mundur, mendekati sebuah rumah kayu kecil yang biasa kami pakai untuk menaruh Begi, burung nuri kesayangan ayah.

Ayah membentangkan tangannya, seperti ingin dipeluk sesuatu di dadanya, atau seperti ia ingin aku melihat sebuah cerita dalam dadanya. Kupu-kupu putih menghampirinya. Hinggap di kemeja putihnya. Entah datang darimana, beraneka warna kupu-kupu hadir mengelilingi ayah. Ratusan, ribuan. Sampai mereka mampu membawa tubuh ayah melayang ke udara.

Aku takjub, ayah tersenyum. Senyum dengan tatapan mata, selamat tinggal? Ayah semakin tinggi dibawa kupu-kupu. Hingga sampai di sebuah tembok pembatas rumah kami. Ayah tiba-tiba lenyap. Ia menembus tembok itu. Lenyap.

“Ayah …!” aku terduduk. Dadaku naik turun. Aku keringatan. Ayah kemudian masuk mengecup keningku dan bilang, “Kita tea time yukh! Ayah telah membuatkan segelas teh aroma apel dan roti panggang dengan selai kacang kesukaanmu.”

***
Aku tak melihat ayah, tapi segelas teh menemani roti panggang di atas meja kayu. Novel Tere Liye, tergeletak di depan bangku kosong yang sedikit tak rapat dengan meja. Ayah Bukan Pembohong, judul buku yang telah sampai di telapak tanganku. Sebuah amplop putih, terselip di sana.

Jika suatu saat nanti kamu bertemu seseorang, Nanda.
Lihatlah benar-benar kedalaman hatinya. Bukanlah cara menilai yang baik, melihatnya hanya dari luar. Dan kamu memutuskan apa yang belum pernah kamu tahu kebenarannya.

Kupu-kupu putih, hinggap di bangku taman. Mengepak sayapnya, kemudian terbang ke arah tembok pembatas rumah. Di sana, kulihat senyum ayah terbingkai dari sekawanannya.


0 komentar:

Post a Comment

Followers

 

©Copyright 2011 Rumah Ramata | TNB