![]() |
| Oleh : Umirah Ramata |
“Ayah …!” Aku terduduk dengan begitu banyak peluh di seluruh tubuh. Dadaku naik turun mengikuti detakan menit di jam dinding kamar. Tanganku gemetar, seolah ada banyak yang berlarian dari sebuah sarang di tubuhku, meluncur menyebar ke seluruh bagian pergelangan dan kaki.
“Ada apa, Nanda?”
Wajah itu berkerut keningnya, perlahan tersenyum setelah menemukan aku masih
terdiam memandang wajahnya.
Ia mendekati ranjang
dan mengelus rambut sebahuku dengan pelan. Damai sekali. Sebuah sentuhan yang
mampu meluruhkan semua getaran di persendianku.
Aku mendekapnya
dengan erat. Sangat erat.
***
“Kita tea time yukh!
Ayah telah membuatkan segelas teh aroma apel dan roti panggang dengan selai
kacang kesukaanmu.” Ayah mengecup keningku. Bibirnya tertarik ke atas saat
menyadari daerah yang ia cium tadi telah basah. Ayah mengusapnya dengan telapak
tangannya pelan.
“Jangan lupa cuci
muka dan gosok gigi ya. Ayah tunggu di bawah.”
Aku membalas semua
ucapannya dengan senyum dan beberapa anggukan tanda setuju dan berterima kasih.
“Jangan lama-lama ya,
nanti tehnya keburu dingin.” ingatnya.
Aku mengangguk sekali
lagi dan menyibak selimut berwarna gold dengan motif bunga.
Ada yang beda dengan
kamarku ini. Tapi teddy bearku masih terduduk di samping bantal pink bergambar
hati yang pernah ayah belikan untukku. Masih sama tempatnya. Sama seperti
deretan buku-buku novel yang terpajang manis menghiasi pajangan kayu huruf S di
dinding sebelah jendela kamarku.
Ah, sudahlah, ini
pasti hanya perasaanku saja. Aku takkan mebiarkan tea timeku bersama ayah
lenyap begitu saja. Aku bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri.
***
Aku melihat ayah
dengan sebuah novel Tere Liye di tangannya. Wajahnya tertunduk begitu takzim
membaca novel itu. Sangat berkonsentrasi.
“Terima kasih, Yah.” Aku
menyeruput segera teh aroma apel kesukaanku. Nikmat sekali. Ayah tersenyum dan
mengangguk.
Sore itu, bunga iris memberi
warna tersendiri. bunga yang hamper sebagian besar mengisi taman belakang rumah
kami. Bunga kesukaan Bunda dengan warna ungu yang memang favoritnya. Aku bisa
merasakan kehadirannya di antara kami. Walau ia telah tiada delapan tahun lalu.
Itulah peninggaln
berharga Bunda bagi kami. Ia pernah bilang, bahwa saat ia tiada nanti, ia akan
menjelma di antara kami sebagai iris-iris yang menebar wangi dan warna di
taman. Bahkan sampai kapanpun, Ia akan selalu tetap ada, walau ketika satu
persatu iris jatuh dengan kelayuannya.
“Ayah ingin
menunjukkan sesuatu padamu, Nanda.” Ayah menutup novel yang dipegangnya setelah
ia memberi sebuah penanda di halaman terakhir yang ia baca.
Ayah beranjak dari
kursinya dan berjalan menuju belakang taman rumah kami. Aku mengikuti langkah
ayah dengan sedikit bingung. Bukankah, taman kami hanya sekitar dua puluh meter
saja ke arah pagar tembok sebagai pembatas rumah kami yang berbatasan dengan
pekarangan rumah orang lain?
Aku melihat ayah
masih saja melangkah ke depan. Melewati semua rumput hijau yang terpangkas rapi
di pijakan tanah. Beberapa kupu-kupu menyapa rambut ayah. Kemeja putih yang
kebesaran di badannya melambai tertiup angin sore yang aku rasakan semakin
kencang bertiup.
“Kita mau kemana,
Ayah?” Akhirnya tanyaku keluar juga menembus rasa penasaranku. Tapi ayah masih
saja tetap melangkah dan tanpa menoleh, ia bilang, ikut saja, Ayah akan
tunjukkan sesuatu padamu.
Kami semakin jauh
melangkah. Masih bunga iris yang berdiri anggun di samping kanan kiri kami. Aku
mempercepat jalanku dengan sedkit berlari dan menyamakan langkah di samping
kiri ayah. Aku gapai lengannya. Ada getaran yang langsung menembus jantungku. Ia
seperti memompa semua detakan menjadi begitu cepat.
Dari kejauhan, aku
melihat sebuah rumah kecil dengan pekarangan yang luas di depannya. Sebuah
pagar kayu setinggi setengah meter menjadi sebuah petak yang sangat alami.
Semakin mendekat,
semakin tegas warna rumah itu, semua berwarna putih, dengan dinding kayu jati
dan jendela-jendela penuh bunga. Sebuah pintu berwarna coklat tua menyambut
kami. Ayah membukanya perlahan. Dan aku yakin, rumah itu tak terkunci, sehingga
ayah mampu membukanya dengan memutar sedikit saja daun pintu.
No. 29? Ada banyak
yang mengetuk pikiranku. Aku seperti dibawa oleh sejarah 15 tahun lalu saat aku
masih mengenakan sebuah celana kodok dengan kaos biru big size, dituntun ayah
membuka pintu bernomor dua puluh sembilan.
“Ini …?”
Sebelum pertanyaanku
terlontar dari mulut, ayah seperti membaca pikiranku. Ia hanya tersenyum begitu
tulus, dengan lesung pipit yang masih saja bersemayam dengan tegas di kedua
pipinya.
“Iya. Ini rumah kita.”
Ayah masih berjalan lurus ke depan, menuju kamar belakang. Aku yakin, di sana
adalah taman rumah kami.
Semua yang ada dalam
ruang tamu. Masih sama. Sebuah meja kayu dengan kursi rotan minimalis tertata
rapi masih di tempatnya yang semula. Lukisan ayah dan bunda saat menikah pun
masih ada di sana, terpampang dengan sebuah gaun putih yang serasi dengan jas
ayah.
Bingkai foto kayu
berbagai ukuran menghias lemari di atas perapian dengan berbagai poto kami
bertiga, bahkan ketika aku masih berumur dua bulan pun masih terpajang di sana.
Tapi, semua kayu berwarna emas. Bukan warna kayu jati seperti kebanyakan. Bukan
seperti warna kayu jati aslinya rumah kami. Semewah inikah rumah kita, Ayah?
“Apa yang sedang kamu
pikirkan, Nanda?” pikiranku buyar. Satu bingkai poto hampir saja jatuh ke
lantai, untungnya aku dengan cepat menggapainya dan meletakkannya kembali ke
atas perapian.
“Kemarilah, Ayah
ingin menunjukkan sesuatu padamu.” Ayah menggamit tanganku, lalu menuntun
dengan memegang kedua bahuku. Tangannya tetap hangat, sama seperti saat tadi ia
mengelus keningku. Tangan yang begitu kuat menggempur piciknya kehidupan.
Ayah menuntunku ke
halaman belakang rumah kami. Masih utuh keadaannya pula, dengan empat buah
kursi rotan mengeliilingi meja bulat kayu dengan sebuah pot bunga berbatu di
atasnya. Di sekitarnya masih sama pula dengan bunga-bunga iris bermekaran
dimana-mana di tiap ujungnya.
Ayah mendudukkanku di
sebuah batu besar sebelah air mancur, yang airnya keluar dari sebuah patung
ikan rahwana besar. Ia lalu bejalan mundur, mendekati sebuah rumah kayu kecil
yang biasa kami pakai untuk menaruh Begi, burung nuri kesayangan ayah.
Ayah membentangkan tangannya,
seperti ingin dipeluk sesuatu di dadanya, atau seperti ia ingin aku melihat
sebuah cerita dalam dadanya. Kupu-kupu putih menghampirinya. Hinggap di kemeja
putihnya. Entah datang darimana, beraneka warna kupu-kupu hadir mengelilingi
ayah. Ratusan, ribuan. Sampai mereka mampu membawa tubuh ayah melayang ke
udara.
Aku takjub, ayah
tersenyum. Senyum dengan tatapan mata, selamat tinggal? Ayah semakin tinggi
dibawa kupu-kupu. Hingga sampai di sebuah tembok pembatas rumah kami. Ayah
tiba-tiba lenyap. Ia menembus tembok itu. Lenyap.
“Ayah …!” aku
terduduk. Dadaku naik turun. Aku keringatan. Ayah kemudian masuk mengecup
keningku dan bilang, “Kita tea time yukh! Ayah telah membuatkan segelas teh
aroma apel dan roti panggang dengan selai kacang kesukaanmu.”
***
Aku tak melihat ayah,
tapi segelas teh menemani roti panggang di atas meja kayu. Novel Tere Liye,
tergeletak di depan bangku kosong yang sedikit tak rapat dengan meja. Ayah
Bukan Pembohong, judul buku yang telah sampai di telapak tanganku. Sebuah
amplop putih, terselip di sana.
Jika suatu saat nanti kamu bertemu seseorang, Nanda.
Lihatlah benar-benar kedalaman hatinya. Bukanlah cara menilai yang
baik, melihatnya hanya dari luar. Dan kamu memutuskan apa yang belum pernah
kamu tahu kebenarannya.
Kupu-kupu putih,
hinggap di bangku taman. Mengepak sayapnya, kemudian terbang ke arah tembok
pembatas rumah. Di sana, kulihat senyum ayah terbingkai dari sekawanannya.



0 komentar:
Post a Comment