![]() |
| Oleh: Umirah Ramata |
“Kapan kamu mau menerima lamaran Darmo?”
“Mas Paijo belum memberi kabar, Bu.” Marni menghentikan makan siangnya.
“Kamu
masih menunggunya?” Ibu Muji menatap tajam pada Marni, “Dia sudah di
Jakarta lama, pasti sudah punya pacar yang lebih cantik dari kamu atau
mungkin dia sudah menikah tanpa sepengetahuanmu.”
“Mas Paijo mencintai Marni tulus dan berjanji akan kembali untuk melamar Marni, Bu.”
“Kamu
itu bodoh! Tak ada seorang laki-laki yang mau melepaskan perempuan
kota hanya untuk memilih gadis kampung pencari kayu bakar seperti
kamu!”
“Cinta tak mengenal itu, Bu. Cinta itu hati yang bicara, bukan logika.”
“Ya
sudah! terserah kamu! Minggu depan Darmo akan datang untuk melamarmu
lagi. Dan demi bapakmu, kamu tak boleh menolak. Ingat umurmu!”
“Tapi Bu!.”
“Ga usah tapi-tapian. Kalau menikah dengan Darmo, kamu bisa membeli apapun yang kamu mau!”
Marni melihat ibunya menutup kamar tanpa menoleh ke arahnya. Sedang
menu favoritnya tak lagi ia sentuh. Ususnya seperti terbelit dan tak
bisa menerima sesuatu lagi untuk mengisi perutnya.
***
Marni memunguti kayu bakar di hadapannya seperti memunguti kepingan hatinya yang berserahkan.
“Marni….!” Marni memburu sumber suara yang tak asing di telinganya.
“Mas Paijo?”
Paijo berlari mendekati Marni yang masih berdiri mematung.
Marni seperti kejatuhan bintang, hatinya terasa begitu benderang. Kerinduannya terobati. Dadanya bergemuruh namun ditahannya.
“Kamu berbeda.” ucap Marni kecewa.
“Kenapa aku mendengar nada kecewa? Bukankah seharusnya kau bahagia aku telah kembali?”
Dipandanginya Paijo yang telah berubah penampilannya menjadi modis, sedangkan dirinya masih dengan pakaian kumal.
“Kamu telah menjadi orang kota dan tak pantas kembali untuk orang kampungan sepertiku.”
“Apa maksudmu?”
“Sudahlah.” Marni berbalik dan hendak meninggalkan Paijo.
“Maukah kau menikah denganku, Marni?”
Sejenak Marni berhenti dan berbalik arah memandang Paijo.
“Aku tak bisa bersolek seperti perempuan kota, Mas.”
Paijo meraih tangan kiri Marni.
“Embun tak perlu bersolek untuk membuat pagi jatuh cinta, Marni.”
Marni tersenyum, sedikit sinis. Lalu melepaskan genggaman Paijo.
“Embun tak pernah ada di siang hari. Sedang kamu adalah mentari yang telah membuatnya hilang.”
Paijo menatap Marni membawa gendongan kayu bakar dipunggungnya. Berlalu
begitu saja dari hadapannya. Menyisakan banyak tanya yang tak mungkin
ia lontarkan pada embun yang sudah hilang.
20130302



0 komentar:
Post a Comment