![]() |
| Oleh : Umirah Ramata |
Seperti ini, terbaring dalam dingin yang telanjang.
Aku
Panggil kamu lagi. Sapaan penuh rasa yang entah sudah berapalama berkelana.
Memuja purnama-purnama yang melintas lewat jendela. Senyumnya ramah pada kelupasan dinding yang luka.
Aku
Panggil kamu lagi, saat terangnya menembus tirai biru yang kamu pasang waktu itu. Dengan renda-renda ungu barisan mawar.
Kamu dimana, ketika rindu yang selalu menggema di ruangan ini merajuk pilu? Menanyakan bau-bau peluhmu.
Aku
Panggil kamu lagi, saat sinar bulan menjelma pedang. Aku meraung. Terkoyak berdarah-darah memuja cinta fatamorgana.
Lengang. Tanpa denting.
Kalah.
Aku
Panggil kamu lagi, untuk sebentar saja, perlahan. Ajukan pinta mimpi-mimpi yang kemarin kau naikkan dengan pintalan tali. Agar aku mampu menggambar rautmu di angin.
Merajut semua benang kusut menjadi penghangatmu. Dari hati. Dari jiwa.
Penuh cinta.
Aku
Panggil kamu lagi, tapi kamu tak pernah kembali.
Taipei, 161013



0 komentar:
Post a Comment