Adalah UjianNya

Sunday, August 4, 2013 0 komentar
Oleh: Umirah Ramata


Duduk di sini, Ilalang
Kita hitung jejak yang tertinggal dari beberapa luka yang menghuni lapisan

Kemarin, kita dengar Aceh disapa gempa.
Beberapa dari kita telah mendahului menghadapNya
Entah dengan duka atau bahagia
Aku hanya melihat deruan pilu dari yang tertinggal
Ketika jelaga-jelaga tanpa nama itu berulang menjadi episode yang panjang
Kita hitung puing yang tersisa
Dan jangan menangis, Lang
Duka dariNya adalah ujian

Letakkan gitarmu sejenak, Lang
Mari dengar jerit penghuni Mesir
Tempat gegurun yang pernah menjadikan kita teman dari badai
Di sana,
mereka ada dari ketiadaan daya
Yang lemah sedang terinjak di tanah-tanah tanpa nama
Beberapa mengusung keranda
Beberapa mengibar bendera di batang tongkatnya
Beberapa mereka meneriaki udara dengan nanar merah
Jangan sedih, Lang
Amarah yang terlempar adalah ujian

Teguklah sebentar air putih dalam gelas kristalmu, Lang
Lalu perlahan rebahkan kepalamu di pangkuku
Aku ceritakan tentang para pengadu nasib pada belantara dunia
Ada yang mengayuh pedal dari badannya yang tinggal tulang
Keringat bercucuran seolah menguras nyawa dalam tubuhnya
Aku dengar tekadnya cuma satu,
Membawa segenggam beras untuk menghidupkan dapur rumahnya

Ada juga yang seperti boneka sawah, Lang
Tapi ia bernyawa, bernafas seperti kita
Hanya ia tertegun pada ladangnya yang telah terpangkas tandas, namun hutang masih mencekik
Sebentar ia telisik jerami-jerami yang tertimbun tanpa milik
Tak ada sisa, hanya terbayang wajah anak-anaknya menantikan jatah iuran sekolah

Ada pula yang terduduk lemas dimana debu-debu mengakrabinya
Pejalan dengan berbagai wajah dipertunjukan mengartikan hadirnya
Sinis, iba, mencibir,
Ah, dia telah kebal dengan itu semua
Umurnya yang tak lagi muda, menanggung beban dunia
Seluruh urat terpandang sangat lekat di kulit keriput pencatat masa
Hanya satu harapannya kudengar, ada manusia berwajah memberi sedikit uang kembalian di plastik bekas permen lusuh di hadapnya

Masih ingat, tentang dunia yang membawamu pada sesuatu yang tak kau sentuh, namun membuat rasamu teraduk-aduk pilu, Lang?
Dia maya yang menghantarmu pada imaji tak berbatas
Raya yang sekejap lalu membawamu terbang tanpa bisa kupeluk
Ya, di sana
Aku megintai mereka saling bentak
Saling menjatuhkan tanpa rasa asih
Saling menghujat tanpa asuh
Bahkan ada yang diam tapi menikam

Semua terjadi beberapa waktu yang lalu
Saat itu
Saat menjelang suatu bulan yang penuh berkah menggantung di langit-langit senja
Seperti itu, semua dibolak-balikkan kata dan makna
Ditampar perasaan
Digolak wujud-wujud hitam

Bangun, Lang
Bukankah ini semua adalah ujianNya untuk kita?
Memaknai bulan yang paling mulia di antara bulan-bulan lain
Agar tiap-tiap insan yang ditampar kata mampu meluluh dalam do’a
Mengerti bahwa al-qur’anNya sajalah yang membuat ucap penuh pahala
Agar tiap-tiap yang bernyawa menyadari umur bukanlah haknya
Agar tiap seruan yang terlontar haruslah seperti adzan di lima waktu

Dan seperti saat ini, Lang
Mari pergi bersuci, membuang dosa dari tiap-tiap ujung tubuh yang berpori
Biarkan larut dalam aliran air

Ramadhan 1

0 komentar:

Post a Comment

Followers

 

©Copyright 2011 Rumah Ramata | TNB