Macetnya jalanan Jakata tak membuatku merasa penat. Riuh penjual asongan
yang berseliweran berganti menawarkan dagangan, tak aku hiraukan. Walau
sedikit terganggu dengan aroma keringat yang kadang menusuk penciumanku.
Kugenggam erat cincin putih di tangan kiriku. Aku mengharap ada kekuatan
yang bisa teralir dari sana. Membangun sebuah benteng yang tak pernah
runtuh oleh kekalahanku melawan waktu. Dadaku sesak, mengenang semua
peristiwa yang tak pernah terlintas dalam benakku. Butiran yang seolah
mendorong keluar dari pelupuk mata, tetap kutahan agar tak mengalir. Aku
masih punya kenangan yang indah tentang cinta. Mengagumi arti keindahan
yang pernah aku reguk dalam-dalam.
****
Satu bungkus paket dari Pak Pos di tanggal 23 Januari aku terima. Aku
menemukan kemeja kuning dengan jam tangan di dalamnya. Ada satu lembar
kartu ucapan berwarna coklat muda terselip di sana.
Saatmentari membawamu jauh, jangan lupa untuk menatap bumi
Karenabasah hujan mengharap panasmu
Dansaat sejarah hidupmu melukis kisah, tersenyumlah
Waktutakkan menghapusmu
HappyBirthday Ary, wish you all the best
Ica.
“Terima kasih kadonya, Ica. Terima kasih pula atas do’anya.” pesanku menuju nomor HP Ica.
“Kembali kasih. Aku harap ada suatu ruang yang tak sesak di hari yang bersejarah untukmu.” balasnya.
“Aku
berharap sama. Mengharap seseorang yang akan selalu mengingatkan aku
tentang hari yang bersejarah yang sudah aku coba lupakan.” Tak ada
balasan kembali darinya. Aku hanya tersenyum girang, ternyata masih ada
yang mengingat hari lahirku.
Teman karib dan ayahku,
meninggal di tanggal yang sama dengan tanggal kelahiranku. Aku merasakan
begitu perih mengingat tanggal yang seharusnya menjadi satu
hari bersejarah dalam hidupku.
Hari-hariku tak lagi sepi
menyendiri dalam kamar kost yang pengap. Ada yang berbeda dalam beberapa
hari ini. Meski lewat telpon, suara Ica telah mengumandang di tiap sisi
kamar. Dinding-dinding kamar telah merekam begitu banyak keceriaan kami.
Ary Adam namaku. Lahir di Lampung 25 tahun yang lalu. Dengan tinggi 180
cm dan kulit putih, banyak yang berkata aku dan Ica adalah pasangan yang
serasi. Tentu saja, harapku pada pandangan mereka.Ica seperti model
jangkung dengan tinggi 170 cm, langsing dengan lesung pipit di pipinya.
****
Semilir angin menyapa sebagian wajahku. Sejuk, namun tak menenangkan
hatiku yang gundah. Bayang kenangan mencerca tiap kedamaian yang tercipta
dalam surga hati. Ada janji yang masih mengikat dalam lipatan-lipatan
memori.
Aku ingat, waktu itu. Dua bulan setelah perkenalan.
Kami bertemu di Taman Taichung. Saat itu bulan purnama menaung. Banyak
pasangan muda-mudi berkumpul. Tapi, mereka hanya seperti irama
yang mengiringi lagu-lagu romantis yang hadir di kebersamaan kami. Aku
merasa, dunia ini hanya milik kami berdua. Ica membawaku ke alam bidadari
surga, hanya dialah sang ratu dan aku rajanya. Penuh kupu-kupu dan
pelangi.
Hembus angin malam itu, tak membuat kami merinding
dingin. Ica ada di pelukanku. Menghangat di tubuhku. Kami duduk di antara
air mancur yang menggericik syahdu. Gaun putih yang ia kenakan, membuat
wajahnya begitu terang tersorot sinar rembulan.
Ada banyak kata
yang tercuap melalui sorotan mata kami. Ica menunduk. Aku megangkat
dagunya yang mencoba menutupi rasa malu. Aku melihat rona pipinya di
antara remang lampu taman.
“ I love you,” Spontan kata itu keluar dari mulutku, “Maukah kau jadi pacarku?” tanyaku kemudian.
Ica masih menjelajah mataku. Begitudalam ia mencari suatu arti dari sana. Semenit kemudian ia tersenyum.
“ I love you too,” suaranya begitulembut, ”Aku mau.” lanjutnnya.
Ica adalah semangat dalam hidupku.Dia adalah hujan yang yang selalu
mengguyurku dengan kasih sayang dan cinta.Dia juga embunku, yang selalu
menyejukanku, bahkan bukan hanya di pagi hari.
****
Aku melihat Ica terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Selang kecil masih menghubungkannya dengan kotak Infuse sebagai asupan makanannya. Ica masih tertidur pulas saat kuberkunjung menengoknya.
Kupegang jemarinya. Berharap dia tahu, bahwa aku akan selalu berada di sampingnya sebagai penyemangat.
“Mas sudah lama?” tanyanya yang masih terdengar lemas, terbangun.
“Baru
saja, Say.” jawabku gugup.
Sejenak aku mengalihkan pandangan dari
wajah sayunya. Aku tak mau Ica melihat genangan air yang hampir saja
keluar dari sudut mataku.
“Mas sudah makan?” Dia memang selalu
menyanyakan itu.
Dia tak mauaku sakit gara-gara mag yang aku idap.
Padahal dirinya masih ada dipembaringan. Begitulah besarnya perhatian
Ica padaku.
“Sudah sayang. Kamu bagaimana keadaannya?”
“Sudah lebih baik aku rasa. Setelah melihat senyummu, Mas.” ucapnya dengansenyum.
Itu yang kusuka darinya. Selalu menghadapisegala yang menimpanya dengan
senyum. Walau sebenarnya aku tahu, hatinya begitupengap dengan
perceraian orang tuanya, keterpaksaannya meninggalkan kampunghalaman
untuk merantau jauh dari keluarga. Pun seperti ini, saat ia terbaringdi
atas ranjang pasien. Dia masih mampu tersenyum.
Aku mendengar cerita dari Ranti,sahabat kami. Ica terjatuh dari sepeda,
saat ke Pasar Malam Shilin Market diTaichung. Terserempet sepeda motor.
Benturan keras tepat di tengah dadanya. Setelahkejadian itu, Ica sering
merasakan sakit pada jantungnya. Ica memeriksakan dirike Dokter
Specialis Dalam. Hasilnya diketahui, bahwa jantung Ica luka. Selangdua
hari kemudian, Ica operasi.
Ica tak pernah mengeluh. Dia
begitutegar. Satu bulan pasca operasi, Ica sudah bisa beraktivitas
seperti biasa.Senyumnya tetap tak pernah pudar, pun semangatnya tak
hilang. Dia memangmentari dalam hidupku.
****
Agustus kemarin, kontrak kerja Icaselesai di Taiwan. Mengharuskannya
kembali ke negeri kami. Aku melihatkebahagiaan menghias binar matanya,
mungkn hanya sedikit saja ada kesedihan disana. Begitu banyak perasaan
yang berkecamuk menyelubungi hatiku. Namun akuyakin, dia milikku. Begitu
pun Ica, sangat yakin kami berjodoh.
“Ica akan selalu merindukanmu.’’ ujarnya, saat hari terakhir kami betemusebelum kepulangannya ke tanah air.
“Mas juga akan selalu merindukanmu.” balasku.
“Ica punya sesuatu buat mas.” Ica mengeluarkan sebuah cincin putih dan menaruhnyadi atas telapak tanganku.
“Ini
cincin yang biasa Ica pake. Jika kita bertemu kembali, Ica ingin …
masmengembalikannya dengan cincin yang mempunyai arti sesungguhnya.”
terangnya,lalu mengepalkan tanganya di antara tanganku.
“Mas janji
Ica, mas akan datang untuk Ica. Dengan segala kemurnian danmengembalikan
cincin dengan ukuran yang sama.” janjiku diiringi kecup
lembutkumendarat di keningnya.
****
KeberadaanIca dalam pesawat yang ia tumpangi dari Bandara Internasional
Taoyuanmengharuskannya mematikan Hp. Telah lima jam, semenjak itu kami
hilang kontak.Harusnya ia telah sampai di Bandara Sukarno Hatta dan
memberiku kabar. Aku gelisah dibuatnya. Menjelang sore, tak jugaaku
mendapat kabar. Ranti pun tak bisa kuhubungi. Walau Ranti tak pulang
keIndonesia bersama Ica, aku hanya merasakan yakin, kalau ia pasti
mengetahuibagaimana kabar Ica. Begitu pun dengan kakak perempuannya yang
ada diIndonesia, aku tak dapat menghubunginya. Semua nomor mereka
aktif, namun takmengangkat telponku.
Lelah menyerang dan
membuatkutertidur pulas di sofa kamar kostku. Aku terperanjat bangun,
seperti ada yangmembangunkanku. Bukan teriakan, tapi aku bermimpi
patahnya HPku menjadi dua.Kuraih HP di atas meja. Masih tak ada pesan
maupun misscall. Bahkan, kulihatHPku masih utuh seperti semula, tak
patah menjadi dua seperti mimpi itu.
Berulang kali, aku hubungi
semuatemannya, namun tak ada hasil. Semua tak mengangkat telpon dan sama
sekali takbisa menghilangkan rasa gundahku. Senin itu, aku gelisah tak
menentu.
****
Aku
gelisah. Di selasa pagi pun,aku belum mendapat kabar dari Ica. Pikiranku
melanglang, aku gusar. Tak dapataku konsen dengan hariku. Masih aku
tekan-tekan saja nomor sahabat-sahabanyaberulang kali.
Sebuah harapan besar, ketika Rantimau mengangkat teleponku. Tapi aku
tak mendapat jawaban apa-apa. Ranti hanyamenangis, lalu menutup
teleponku kembali. SMS masuk. Aku yakin itu dari Ica,namun, kulihat nama
Ranti yang tertera. Aku buka dengan penuh penasaran danmakin membuatku
bingung saja setelah membacanya.
“Ry, Allah takkan memberikan suatu cobaan di luar batas kemampuan umat-Nya.”
Singkat dan padat, tapi sungguh tak aku mengerti artinya.
Aku mencoba menghubunginya kembali. Aku masih mendengar suara Ranti sesenggukanmenjawab salamku.
“Ry,
Ica kecelakaan dalam perjalanan pulang ke rumah di daerah Cengkareng.”
jelasnyatanpa aku Tanya. Bagai petir yang menusuk telingaku bahkan
menembus ke jantunghatiku.
“Mobil yang ditumpanginya bertabrakan
dengan sebuah truk muatan baja. Ica dankeponakannya meninggal seketika
di tempat kejadian.” lamat sekali aku dengarsuaranya. Begitu perlahan
namun pasti menusup dan meracuni otakku. Melemaskansemua jaringan yang
ada di tubuhku. Aku merinding. Bulir hangat air membasahipipiku.
Sebegitu teganyakah alam mengujiku?
Belum sempat aku
bertanya, teleponitu telah terputus. Setelah dia berkata bahwa kakak Ica
yang ada di Indonesia telahmemberitahunya.
****
Duahari lamanya, aku mencari alamat rumah Ibu Ica. Selang satu bulan
Icameninggal, ayahnya pun menyusul. Hanya dua hari saja, ku sempatkan di
rumah,setelah kepulanganku dari Taiwan dan berada di sini. Di dekat
orang yang kukasihi.
Aku duduk di antara tanah yang masihterlihat
merah. Sejuta kerinduan yang terpendam, tercurah begitu saja
tanpaterobati. Sebagian sayapku patah. Aku hilang keseimbangan.
“Ica,
aku bawakan mawar merah kesukaanmu. Apa kabar kau di sana? Aku
datangmenepati janjiku, kembali untukmu. Aku sangat merindumu.”
Kuletakkan mawarmerah di atas pusaranya.
“Seperti maumu, kukembalikan
cincin ini padamu sayang.” Kugali sedikit tanahmerah dan kuburkan
cincin pemberian Ica beserta cincin asli yang dipintanyadulu di samping
nisannya.
Aku harap dia tak menagih
janjiku. Aku telah kembaliuntuknya dan mengembalikan cincin yang murni
padanya. Kemeja pemberiannya punkupakai saat ini. Aku juga berharap, dia
bahagia, melihatku dari atas sana.
“Yakinlah Ica, cintamu akan selalu ada di hatiku.” bisikku pada angin, yang akuyakin akan menyampaikannya pada Ica.



0 komentar:
Post a Comment