The Promise Ring

Wednesday, October 30, 2013 0 komentar
Macetnya jalanan Jakata tak membuatku merasa penat. Riuh penjual asongan yang berseliweran berganti menawarkan dagangan, tak aku hiraukan. Walau sedikit terganggu dengan aroma keringat yang kadang menusuk penciumanku.

Kugenggam erat cincin putih di tangan kiriku. Aku mengharap ada kekuatan yang bisa teralir dari sana. Membangun sebuah benteng yang tak pernah runtuh oleh kekalahanku melawan waktu. Dadaku sesak, mengenang semua peristiwa yang tak pernah terlintas dalam benakku. Butiran yang seolah mendorong keluar dari pelupuk mata, tetap kutahan agar tak mengalir. Aku masih punya kenangan yang indah tentang cinta. Mengagumi arti keindahan yang pernah aku reguk dalam-dalam.

****

Satu bungkus paket dari Pak Pos di tanggal 23 Januari aku terima. Aku menemukan kemeja kuning dengan jam tangan di dalamnya. Ada satu lembar kartu ucapan berwarna coklat muda terselip di sana.

Saatmentari membawamu jauh, jangan lupa untuk menatap bumi
Karenabasah hujan mengharap panasmu
Dansaat sejarah hidupmu melukis kisah, tersenyumlah
Waktutakkan menghapusmu

HappyBirthday Ary, wish you all the best
Ica.

“Terima kasih kadonya, Ica. Terima kasih pula atas do’anya.” pesanku menuju nomor HP Ica.
“Kembali kasih. Aku harap ada suatu ruang yang tak sesak di hari yang bersejarah untukmu.” balasnya.
“Aku berharap sama. Mengharap seseorang yang akan selalu mengingatkan aku tentang hari yang bersejarah yang sudah aku coba lupakan.” Tak ada balasan kembali darinya. Aku hanya tersenyum girang, ternyata masih ada yang mengingat hari lahirku.

Teman karib dan ayahku, meninggal di tanggal yang sama dengan tanggal kelahiranku. Aku merasakan begitu perih mengingat tanggal yang seharusnya menjadi satu hari bersejarah dalam hidupku.

Hari-hariku tak lagi sepi menyendiri dalam kamar kost yang pengap. Ada yang berbeda dalam beberapa hari ini. Meski lewat telpon, suara Ica telah mengumandang di tiap sisi kamar. Dinding-dinding kamar telah merekam begitu banyak keceriaan kami.

Ary Adam namaku. Lahir di Lampung 25 tahun yang lalu. Dengan tinggi 180 cm dan kulit putih, banyak yang berkata aku dan Ica adalah pasangan yang serasi. Tentu saja, harapku pada pandangan mereka.Ica seperti model jangkung dengan tinggi 170 cm, langsing dengan lesung pipit di pipinya.

****

Semilir angin menyapa sebagian wajahku. Sejuk, namun tak menenangkan hatiku yang gundah. Bayang kenangan mencerca tiap kedamaian yang tercipta dalam surga hati. Ada janji yang masih mengikat dalam lipatan-lipatan memori.

Aku ingat, waktu itu. Dua bulan setelah perkenalan. Kami bertemu di Taman Taichung. Saat itu bulan purnama menaung. Banyak pasangan muda-mudi berkumpul. Tapi, mereka hanya seperti irama yang mengiringi lagu-lagu romantis yang hadir di kebersamaan kami. Aku merasa, dunia ini hanya milik kami berdua. Ica membawaku ke alam bidadari surga, hanya dialah sang ratu dan aku rajanya. Penuh kupu-kupu dan pelangi.

Hembus angin malam itu, tak membuat kami merinding dingin. Ica ada di pelukanku. Menghangat di tubuhku. Kami duduk di antara air mancur yang menggericik syahdu. Gaun putih yang ia kenakan, membuat wajahnya begitu terang tersorot sinar rembulan.

Ada banyak kata yang tercuap melalui sorotan mata kami. Ica menunduk. Aku megangkat dagunya yang mencoba menutupi rasa malu. Aku melihat rona pipinya di antara remang lampu taman.

I love you,” Spontan kata itu keluar dari mulutku, “Maukah kau jadi pacarku?” tanyaku kemudian.
Ica masih menjelajah mataku. Begitudalam ia mencari suatu arti dari sana. Semenit kemudian ia tersenyum.
I love you too,” suaranya begitulembut, ”Aku mau.” lanjutnnya.

Ica adalah semangat dalam hidupku.Dia adalah hujan yang yang selalu mengguyurku dengan kasih sayang dan cinta.Dia juga embunku, yang selalu menyejukanku, bahkan bukan hanya di pagi hari.

****

Aku melihat Ica terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Selang kecil masih menghubungkannya dengan kotak Infuse sebagai asupan makanannya. Ica masih tertidur pulas saat kuberkunjung menengoknya.
Kupegang jemarinya. Berharap dia tahu, bahwa aku akan selalu berada di sampingnya sebagai penyemangat.
“Mas sudah lama?” tanyanya yang masih terdengar lemas, terbangun.
“Baru saja, Say.” jawabku gugup.

Sejenak aku mengalihkan pandangan dari wajah sayunya. Aku tak mau Ica melihat genangan air yang hampir saja keluar dari sudut mataku.
“Mas sudah makan?” Dia memang selalu menyanyakan itu.
Dia tak mauaku sakit gara-gara mag yang aku idap. Padahal dirinya masih ada dipembaringan. Begitulah besarnya perhatian Ica padaku.
“Sudah sayang. Kamu bagaimana keadaannya?”
“Sudah lebih baik aku rasa. Setelah melihat senyummu, Mas.” ucapnya dengansenyum.

Itu yang kusuka darinya. Selalu menghadapisegala yang menimpanya dengan senyum. Walau sebenarnya aku tahu, hatinya begitupengap dengan perceraian orang tuanya, keterpaksaannya meninggalkan kampunghalaman untuk merantau jauh dari keluarga. Pun seperti ini, saat ia terbaringdi atas ranjang pasien. Dia masih mampu tersenyum.

Aku mendengar cerita dari Ranti,sahabat kami. Ica terjatuh dari sepeda, saat ke Pasar Malam Shilin Market diTaichung. Terserempet sepeda motor. Benturan keras tepat di tengah dadanya. Setelahkejadian itu, Ica sering merasakan sakit pada jantungnya. Ica memeriksakan dirike Dokter Specialis Dalam. Hasilnya diketahui, bahwa jantung Ica luka. Selangdua hari kemudian, Ica operasi.

Ica tak pernah mengeluh. Dia begitutegar. Satu bulan pasca operasi, Ica sudah bisa beraktivitas seperti biasa.Senyumnya tetap tak pernah pudar, pun semangatnya tak hilang. Dia memangmentari dalam hidupku.

****

Agustus kemarin, kontrak kerja Icaselesai di Taiwan. Mengharuskannya kembali ke negeri kami. Aku melihatkebahagiaan menghias binar matanya, mungkn hanya sedikit saja ada kesedihan disana. Begitu banyak perasaan yang berkecamuk menyelubungi hatiku. Namun akuyakin, dia milikku. Begitu pun Ica, sangat yakin kami berjodoh.

“Ica akan selalu merindukanmu.’’ ujarnya, saat hari terakhir kami betemusebelum kepulangannya ke tanah air.
“Mas juga akan selalu merindukanmu.” balasku.
“Ica punya sesuatu buat mas.” Ica mengeluarkan sebuah cincin putih dan menaruhnyadi atas telapak tanganku.
“Ini cincin yang biasa Ica pake. Jika kita bertemu kembali, Ica ingin … masmengembalikannya dengan cincin yang mempunyai arti sesungguhnya.” terangnya,lalu mengepalkan tanganya di antara tanganku.
“Mas janji Ica, mas akan datang untuk Ica. Dengan segala kemurnian danmengembalikan cincin dengan ukuran yang sama.” janjiku diiringi kecup lembutkumendarat di keningnya.

****
 
KeberadaanIca dalam pesawat yang ia tumpangi dari Bandara Internasional Taoyuanmengharuskannya mematikan Hp. Telah lima jam, semenjak itu kami hilang kontak.Harusnya ia telah sampai di Bandara Sukarno Hatta dan memberiku kabar. Aku  gelisah dibuatnya. Menjelang sore, tak jugaaku mendapat kabar. Ranti pun tak bisa kuhubungi. Walau Ranti tak pulang keIndonesia bersama Ica, aku hanya merasakan yakin, kalau ia pasti mengetahuibagaimana kabar Ica. Begitu pun dengan kakak perempuannya yang ada diIndonesia, aku tak dapat menghubunginya. Semua nomor mereka aktif, namun takmengangkat telponku.

Lelah menyerang dan membuatkutertidur pulas di sofa kamar kostku. Aku terperanjat bangun, seperti ada yangmembangunkanku. Bukan teriakan, tapi aku bermimpi patahnya HPku menjadi dua.Kuraih HP di atas meja. Masih tak ada pesan maupun misscall. Bahkan, kulihatHPku masih utuh seperti semula, tak patah menjadi dua seperti mimpi itu.

Berulang kali, aku hubungi semuatemannya, namun tak ada hasil. Semua tak mengangkat telpon dan sama sekali takbisa menghilangkan rasa gundahku. Senin itu, aku gelisah tak menentu.

****

Aku gelisah. Di selasa pagi pun,aku belum mendapat kabar dari Ica. Pikiranku melanglang, aku gusar. Tak dapataku konsen dengan hariku. Masih aku tekan-tekan saja nomor sahabat-sahabanyaberulang kali.

Sebuah harapan besar, ketika Rantimau mengangkat teleponku. Tapi aku tak mendapat jawaban apa-apa. Ranti hanyamenangis, lalu menutup teleponku kembali. SMS masuk. Aku yakin itu dari Ica,namun, kulihat nama Ranti yang tertera. Aku buka dengan penuh penasaran danmakin membuatku bingung saja setelah membacanya.
“Ry, Allah takkan memberikan suatu cobaan di luar batas kemampuan umat-Nya.”
Singkat dan padat, tapi sungguh tak aku mengerti artinya.

Aku mencoba menghubunginya kembali. Aku masih mendengar suara Ranti sesenggukanmenjawab salamku.

“Ry, Ica kecelakaan dalam perjalanan pulang ke rumah di daerah Cengkareng.” jelasnyatanpa aku Tanya. Bagai petir yang menusuk telingaku bahkan menembus ke jantunghatiku.
“Mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan sebuah truk muatan baja. Ica dankeponakannya meninggal seketika di tempat kejadian.” lamat sekali aku dengarsuaranya. Begitu perlahan namun pasti menusup dan meracuni otakku. Melemaskansemua jaringan yang ada di tubuhku. Aku merinding. Bulir hangat air membasahipipiku. Sebegitu teganyakah alam mengujiku?

Belum sempat aku bertanya, teleponitu telah terputus. Setelah dia berkata bahwa kakak Ica yang ada di Indonesia telahmemberitahunya.

****

Duahari lamanya, aku mencari alamat rumah Ibu Ica. Selang satu bulan Icameninggal, ayahnya pun menyusul. Hanya dua hari saja, ku sempatkan di rumah,setelah kepulanganku dari Taiwan dan berada di sini. Di dekat orang yang kukasihi.

Aku duduk di antara tanah yang masihterlihat merah. Sejuta kerinduan yang terpendam, tercurah begitu saja tanpaterobati. Sebagian sayapku patah. Aku hilang keseimbangan.
“Ica, aku bawakan mawar merah kesukaanmu. Apa kabar kau di sana? Aku datangmenepati janjiku, kembali untukmu. Aku sangat merindumu.” Kuletakkan mawarmerah di atas pusaranya.
“Seperti maumu, kukembalikan cincin ini padamu sayang.” Kugali sedikit tanahmerah dan kuburkan cincin pemberian Ica beserta cincin asli yang dipintanyadulu di samping nisannya.

Aku harap dia tak menagih janjiku. Aku telah kembaliuntuknya dan mengembalikan cincin yang murni padanya. Kemeja pemberiannya punkupakai saat ini. Aku juga berharap, dia bahagia, melihatku dari atas sana.

“Yakinlah Ica, cintamu akan selalu ada di hatiku.” bisikku pada angin, yang akuyakin akan menyampaikannya pada Ica.

0 komentar:

Post a Comment

Followers

 

©Copyright 2011 Rumah Ramata | TNB