Edelweiss

Oleh: Umirah Ramata kamu  tahu siapa dia? dia fiksi yang meraja novelku dia bait puisi dalam diaryku pelan-pelan saja menyapanya k...

Surat untuk Ayah

Oleh: Umirah Ramata Taipei, 11 Oktober 2012                                                                              Teruntuk...

Kita dan Entah

Oleh: Umirah Ramata Belasan rindu berjajar bambu Tunduk di pusaran batu Entah jiwa sendu atau pilu Meregangkan awan bertulang...

Desember untuk Drambisyon

Oleh: Umirah Ramata                            Kemarin, aku sudah tenang bisa melepasmu dengan seluruh hidup. Tapi mengapa sekaran...

Jejak Sunyi

Oleh: Umirah Ramata jika pagi ini rinduku masih harus dipendam pasir pepantai, mana yang harus kuucap ketabahan? jika selendang pe...

WIDURI

       Bram berpeluh keringat. Gemeretak giginya memberitahukan tiap dinding ruang bersalin, bahwa ia begitu tak tenang. Bram ingat ke...

Embun

Oleh: Umirah Ramata “Kapan kamu mau menerima lamaran Darmo?” “Mas Paijo belum memberi kabar, Bu.” Marni menghentikan makan siangny...

LELAKIKU

Oleh: Umirah Ramata Rambut gimbalnya masih sama, sedikit bergelombang menambah wax di wajah. Bukan garang, dia begitu penuh kharisma...

B

Oleh: Umirah Ramata Bercerita? Semenjak beberapa hari yang lalu aku bercerita, tapi hanya berbalas hembusan angin. Tak ada tata...

Untuk Ilalang

Oleh: Umirah Ramata Lang, menghitung jarak antara kita, seperti merunuti jejak di tiupan angin. Dari utara kau menari dengan gemulai ...

Adalah UjianNya

Oleh: Umirah Ramata Duduk di sini, Ilalang Kita hitung jejak yang tertinggal dari beberapa luka yang menghuni lapisan Kemarin, kit...

Followers

 

©Copyright 2011 Rumah Ramata | TNB