Ada kecoak jalan di selokan, makan sampah apa saja di depannya. Ketemu sang raja hutan yang membawanya ke istana di beri setumpuk berlian dan emas bergunung-gunung.
"Ambillah apa yang kau mau, itu untukmu, hai Saudaraku." Perintah sang raja hutan.
"Aku sangat bahagia andai aku jadi permaisurimu." Kecoak meninggikan antena di kepala.
"Maafkan aku, apa jadinya anak kita jika kau dan aku menikah." sahut sang raja dengan sedih.
"Cinta tak butuh logika untuk mewujudkan apa yang akan terjadi dengan anak kita. Bukankah kita adalah makhlukNya?"
"Cinta adalah anugrah bagi siapa saja. Tapi lebih utama, adalah cinta yang pernah kamu bina dan kau menyuburkannya demi surgaNya." Sang raja menatap ke luar jendela.
"Bolehkah aku mencintai yang ada sesuai jalan hatiku?"
"Tentu saja! Itu yang harus kau utamakan." Sang Raja dengan tegas.
"Lalu jika aku memilih yang lain karena aku telah mengetahui betapa susahnya membina keutuhan cinta bersamanya. Bolehkah aku berpindah ke lain hati?" Kecoa memandang bulu-bulu halus sang raja.
"Jika apa yang pernah kau putuskan adalah bukan hal yang fatal. Pikirkanlah! Namun jika hal yang pernah kau pikirkan adalah hal yang semulanya sangat kau inginkan dan kau memang pernah benar sangat bahagia bersamanya, mengapa kau ingin berpaling?"
"Karena ada yang lebih menawarkan keindahan lain yang kurasa lebih abadi."
"Kau rasa? Apa maksudmu?" Sang Raja mengernyitkan dahi.
"Pernahkan kau tahu tentang rasa penyesalan karena telah melepaskan, duhai Sang Raja?"
"Tentu aku pernah mendengarnya."
"Lalu bolehkan aku menyesalinya." Dengan cepat Kecoa menyela.
"Tentu boleh, jika hal itu baik untukmu. Dan merubah pandanganmu terhadap hidup."
"Aku menyesal telah memilih jalan hidup yang sekarang." papar Kecoa.
"Hidup adalah pilihan, Saudaraku. Jika kau pernah memilih, pernah mengecap bahagia dengannya. Dan di
antaranya kau telah mengikrar sebuah ikatan suci. Bagaimana kau bilang menyesali yang telah lalu?" Sang Raja menatap lembut Kecoa.
"Saya ingin melepsakan yang sekarang duhai Sang Raja."
"Kau ingin melepaskan yang telah kau genggam dan kau mencari sesuatu yang belum pernah benar-benar tahu arti perjuangan mewujudkan kehidupan, duhai Saudaraku?"
"Bukan itu maksudku."
"Lakukanlah! Sesungguhnya hidup adalah pilihan. Setiap-tiap manusia punya jalan yang harus dipilihnya. Dan ingatlah. Masa lalumu adalah lalumu, masa kinimu adalah kinimu. Dan yang di depan, adalah masa depanmu. Terimalah apa yang kau telah lalui dengan pemikiran. Dekap apa yang sedang kau jalani dengan perasaan. Dan Bersiaplah, apa yang akan kau dapatkan. Sesungguhnya aku yakin, kau tahu apa-apa yang disukai dan dimurkaiNya."
Kecoa diam. Sang Raja diam.
Berlian dan emas saling berbisik, "Sesungguhnya aku hanya sebuah ujian, dan aku takkan pernah mereka bawa ke alam sana untuk membeli mobil dan rumah mewah impian. Aku adalah fatamorgana."
Taipei, 20131030
Oleh: Umirah Ramata


0 komentar:
Post a Comment