Cerita Enam November

Tuesday, November 5, 2013 0 komentar
26 derajat suhu kamar di siang hari ini, tak ada mentari yang menemani bumi. Semilir angin terasa cukup membuat yang berjalan saat pagi tadi merapatkan jaketnya. Tapi bagiku, ini adalah perjuangan.
Sedari semalam yang hanya 25 derajat dalam kamar, mampu membuat peluhku bercucuran. Mantap untuk olah raga. Tapi bagaimana cukup membuat nyaman, jika keringat itu bermunculan setelah mandi malam baru saja selesai kutunaikan. Whatever, esok aku akan mandi menyegarkan badan, bisikku pada lelah.

Telat! Pagi hari, tak kudapatkan sepagi mungkin beraktivitas. Karena setelah salat subuh, tidur kulanjutkan. Tepat jam 9:30, Pak Pos purna membangunkanku dengan bel pintu yang pastinya lebih kencang berteriak daripada alarm di hp bututku.

Membuka pintu kamar sambil mengikat rambutku ke atas tanpa membiarkannya bersentuhan dengan sang sisir. Tak salah, jika dalam lift menuju lantai satu, aku meraba mata dan mencoba membersihkannya dari sisa mimpi semalam. Walau tak sempurna. Tentu saja, karena tak ada tissu yang kubawa. Hanya beberapa jari yang rela, bahkan mungkin terpaksa melakukannya.

Pak pos berlari mendekatiku, setelah aku mencari sosoknya yang hilang entah kemana, hanya sebuah mobil bok berwarna hijau terparkir di depan flat. Setelah paraf tanda terima, aku segera masuk kembali ke dalam rumah. Amey Mey, pengirim paket itu.Sepaket buku yang telah kutunggu selama sebulan setengah, akhirnya sampai pada pelukanku.

***

Satu jam berikutnya bel pintu berbunyi lagi. Ah, yang ini adalah yang paling kutunggu. Kenapa? Karena ia adalah seseorang yang nomornya telah kunamai dalam hpku dengan "Soulmate". Apa pula itu? What's happened? Jangan salah duga, ia adalah orang yang selalu mengantarkan belanjaan Ol Shopku. Tentu saja, kehadirannya selalu ditunggu setiap aku selesai memesan barang. :D

Setelah menekan tombol otomatis pembuka pintu, aku menunggunya dengan sebuah dompet merah di tangan. Ya, ia tak seperti Pak Pos, ia biasanya,mengantarkan barang tepat di depan pintu tanpa aku turun ke lantai satu. Itu artinya, ia akan naik lift ke atas, ke lantai tujuh tempat kamar flatku.
Kejutan terjadi saat pintu kubuka. Ada dua orang lelaki yang berdiri di sana. Masing-masing membawa paket kiriman. Terang saja aku tersenyum dengan sedikit tertawa, kok bisa ya mereka bersamaan mengantarkan barang? :D

Whatever, aku sekaligus menandatangani empat lembar tanda terima. Siapa lelaki itu? Yang satunya, adalah Soulmate yang aku bilang tadi, dan lelaki jangkung necis adalah si Handsome yang biasa mengantar barang kilat, atas pesanan Xiao Bi.
Tahukah kau Xiao Izawa, si Handsome itu ramah lhooo! ! ! ^_^

***

Ah, kerjaanku masih menumpuk. Tapi sebentar lagi makan siang harus aku persiapkan. Jadilah aku berjalan menuju pasar untuk belanja. Sudah sampai di ujung pasar, buah permintaan nenekku belum juga terlihat. Akhirnya kubeli saja beberapa jambu air.

Pedagang yang berumur sekitar setengah abad itu, memasukkan beberapa jambu ke dalam kantong palstik.
Jangan banyak-banyak, pak, ucapku. Beri saja 5 biji.
Tapi pedagang itu sudah membungkuskan sekitar supuluh di dalam plastik. Nts 200, katanya.
Beri saja seharga seratus, Pak, soalnya aku cuma berdua dengan nenek.
Dengan sedikit terburu, ia meletakkan beberapa buah ke dalam meja dagangannya.
Nts 150 saja, ucapnya dengan menambahkan satu buah jambu, sebagai bonus, katanya lagi.
Cukuplah. Cukup satu kali ini saja aku belanja di pedagang itu. Pemaksaan untuk membeli barang dagangannya. Tentu saja itu tak membuat nyaman penjual, terutama seperti aku yang telah dijatah sekian untuk pengeluaran belanja tiap hari.

Belum sempat melegakan kesalku. Hpku berbunyi. Ini dia yang akan menjemput kardus yang telah kusiapkan semalaman tadi, sebutlah namanya indek. Ia bilang, akan sampai ke rumah. Dengan jalan cepat dan sedikit berlari aku membeli sebungkus gula. Dan berlari kembali membeli sebuah kartu pulsa, untuk nengku.

Belum selesai mengatur nafas yang terengah-engah, hpku berbunyi lagi. Indek bilang, ia telah menekan bel rumah berkali-kali namun tak juga aku turun membuka pintu. Huft! Cepat sekali, tak sampai lima menit jaraknya dari pemberitahuannya yang pertama.

Aku hanya bilang, akan segera sampai, tolong tunggu aku.
Cepatlah! Sudah sekali aku datang tanpa kamu di rumah! Umpatnya kesal.
Jadilah aku sprin, sampai melihat mobil bok merah terparkir depan rumah. Indek telah berdiri dengan seragam merah dan menggendong satu buah boneka jerapah di dada depannya. Itulah bonusku, sebuah boneka kuning.

Ah, purna sudah lelahku. Perjuanganku sampai siang ini. Dan perasaan lega mengalir begituuu panjaaang. Alhamdulillah.

***

Makan siang selesai. Nenek memintaku mengantarnya ke kamar mandi. Mmm, ada yang beda di bajunya, menggelembung, pasti ia membawa dompet di saku baju tidurnya.
Jalannya miring, tak tegak, walau sudah terbiasa seperti itu, tapi aku rasa, ada yang beda. Tapi sudahlah, forget it! Aku tak mau terlalu memikirkannya banyak-banyak.

Sampailah di kamar menidurkannya di ranjang kayu, nenek memintaku mengeluarkan kotak pribadi miliknya.
Kuberikan padanya, dan ia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku baju. Itulah dia, dompet hitam miliknya. Eh, adalagi. Ternyata ia juga mengantongi ginseng di saku, itu sebabnya, jalannya miring. Mba Asri Fara. :D :D

6 November 2013
Oleh: Umirah Ramata

0 komentar:

Post a Comment

Followers

 

©Copyright 2011 Rumah Ramata | TNB