Berburu Paris

Tuesday, October 22, 2013 0 komentar
Oleh : Umirah Ramata

Masih sendu, jauh dari terangnya sinar malam itu, dengan canda tawa semua yang melingkari sisiku. Aku masih berlarian mengejar senyummu, yang cuma selintas memberi fatamorgana, di gurun-gurun rindu. Akhir waktu yang menutup mata, siluetmu hadir. Menggapai segala sudut hampa.


Sejenak, layangan tanganmu menyentuh pipi.Kita bicara saat itu. Saat mentari tak lagi hadir menyilaukan rautmu. Kamu tetap utuh, Ilalangku dengan seribu cahaya yang tak pernah padam. Kita pun tak pernah bernyanyi tentang lagu cinta melalui alunan musik malam itu. Hanya "Na ... na ... na ..." penuh makna, tanpa yang lain mengerti, kecuali kita.

Aku dan kamu jadi sejarah. Dari dunia yang menghadirkanmu seperti Rama, mewujudkanku Shinta tanpa cela tentang cinta. Kita. Berbincang apa saja dengan malam yang tak pernah malu menyelimut. Siapapun boleh merekam. Bahkan mampu cemburu dengan tatap elangmu yang menukik hatiku. Walau dengan diam-diam bibirmu menari di panggung layar.

Kaulah pesona tanpa cela."Aku suka dengan gambarmu yang terbaring menyambut ilalang," Tetap seperti kamu. Dengan tawa sedikit tertahan dan bahu datarmu berguncang, "Kapan kamu akan ke Paris?"

"Tahun depan, aku akan ada di sana untuk malam tahun baru" Katamu.

Andai saja kau tahu apa pikirku. Sungguh, aku ingin kau bilang akan menungguku di sana. Menatap ujung paling puncak menara. Atau menghitung tiap jejak kita memutari kakinya. Atau pula berlarian mengejar syal tipisku yang tertiup angin.

Nyatanya mungkin tak pernah sama. Setelah kau tanya tentang apa yang akan aku lakukan. Kau hanya mengaku "A bad boy" dan mencandaiku "A good girl".Aku tak mau ucapan itu, karena sama saja.

Seperti apapun kau kata, selalu ada ruang yang tak pernah tertutup rapat di sana. Di dalam sana. Saat semua elemen tubuh bergetar mengucap mantra untukmu.

Seperti lukisan malam kita di pantai impian. Cahaya lilin terpancar memantul di hidung bangirmu. Aku tersipu malu, ketika jemari gagahmu mengusap bibriku yang penuh busa cappuccino.

Aku. Masih saja berburu Paris di matamu. Di hatimu. Dan aku ingin menjelma menjadi udara. Peka. Dekat. Tanpa Celah.

Taipei, 2013 Oktober 2013


0 komentar:

Post a Comment

Followers

 

©Copyright 2011 Rumah Ramata | TNB