Gado-gado Malam Ied dengan Semangkuk Mi Ayam

Tuesday, October 22, 2013 0 komentar
Oleh: Umirah Ramata

 
"Ibu aneh! Nyebelin iiih!" Kuletakkan selular bututku begitu saja. Sedang telingaku, masih tersumpal headsdet super nyaring yang bisu.

Bagaimana pula aku mengumpat beliau begitu dalam hati? Sedang asyik rasanya berbincang, dan tanpa permisi sesuatu memutuskan menu malam kami. Menu spesial Idul Adha.

Seperti yang aku bilang tadi pagi, aku sangat merindunya. Walau kata siapapun yang kenal dengannya, pasti bilang beliau begitu bawel.
Setelah dicoba beberapa kali untuk mengulangi sambungan telepon, ternyata nomor yang aku tuju sibuk. Mmm ... ini kerjaannya si bawel junior nih, nelponnya nyelonong.

Sudahlah, rupanya harus memendam kesal sementara. Menatap kembali layar 13 inchi di depanku. Ah, bosan. Yang membuat nyaliku betah adalah berselancar mencari baju pesanan mba Asri Fara. Kalau modelnya sesuai, tapi harganya selangit. Atau kalau tak selangit, aku tak bisa cara bayarnya. Hadeuh! ini aku gaptek amat ya!

Melihat setumpukkan buku yang tersusun rapi di dalam kotak coklat motif polkadot, membuatku berpikir sejenak, memang benar, barangku sudah terlalu banyak untuk kutumpuk. File belanjaan setia menemaniku di samping tangan kiri. Setelah 180 derajat memutar kepala, kulihat nenek sudah terbaring menutup mata, dengan mulut tanpa giginya yang sedikit menganga.

Eh, ada sesuatu yang aku ingat. Janji untuk menelponnya malam ini, setelah kemarin malam tak diangkatnya. Seseorang yang selama ini hanya berinteraksi melalui dumay.
Kutekan nomor yang masih tercantum di dialled calls. Sambil menebak-nebak, kegiatan apa yang sedang ia lakukan.

"Halo ...." Sapanya dari seberang dengan suara berat. Berat? Maksudnya?
Well, kenapa saya bilang berat? Karena memang suaranya berat, sekilo? Sekuintal? Atau satu ton? Pokoknya tak terkatakan. Pokoknya lagi, kalau suatu saat aku disuruh nebak suara, aku akan bisa mengenali suaranya.

"Ini Umirah Ramata ya?" Aih, lengkap sekali ia menyebut namaku. Bukan nama pena ini maksudnya.

"Iyah, sedang apa?"

"Sedang cari makan, dari pagi belum makan." Suara jalanan memang terdengar dari ujung sana.

"Oh ya sudah, nanti Umi telepon lagi saja ya."

"Eh, ga usah. Masih nyari makan, belum ketemu tempatnya." Selanya, cepat.

"Kenapa belum makan?" Tanyaku heran. Tak terbayangkan tentunya. Cerita ga ya? Cerita ah, orang seperti ia yang sibuk dengan aktifitasnya dan dengan segala pemikirannya menahan lapar dari pagi.

"Tak ada yang jualan, Umi. Pada tutup semua yang jualan." Jawabannya membuyarkan pikiranku yang berlarian di depan jidat.

"Tak ada mi instan di rumah?" Tanyaku sekenanya.

"Tak terlalu suka aku dengan itu, Umi. Aku suka yang empal, nasi padang, sate, begituan."

"Owh." Berpikir sejenak, apa orang yang seleranya tinggi mengenai pemikiran, pun punya selera tinggi tentang makanan? Suatu saat nanti aku akan tanyakan padanya, atau mungkin saja ia baca ini lalu menjawabnya.

"Lapar Umi. Nahan lapar dari pagi. Pengen nangis, tapi malu, sudah setua ini masa nangis? Ga nangis, ya lapar." Lah ... orang yang sedang kelaparan saja, bisa bikin aku ketawa dengan bahasanya. Bagaimana saat ia bahagia ya?

Gelaklah tawaku. Gelak juga tawanya. Tapi tak maulah lama-lama ketawa. Kasihan tenaganya, akan lebih terkuras untuk ketawa. . (Gaplok Umi :D)

Di sela laparnya, ia masih saja menyemangatiku menulis. Motivator nih tentunya. Jadi ingat film-filmnya Jackie Chan. Hubungannya? Tentu saja ada. Perannya kocak, pemain utama yang jago kungfu silat. Tapi lihat deh tingkahnya di sela-sela pertarungan yang tegang. Pasti saja ada hal lucu yang dia ciptakan. Seperti keadaan ia yang aku bayangkan saat ini, melilit megangin perut yang lapar, sambil ngomong masalah semangat.
Nyambung ga sih? Whatever dah.

Tak lama setelah ia menemukan gerobak mi ayam. Ia pesan dengan memanggil, Bu ... Pak. Jadi mikir lagi, yang jualan itu ibu-ibu apa bapak-bapak ya? Atau memang setengah-setengah?:D
Sudah cukup ketawanya. Karena setelah aroma semangkuk mi ayam menembus penciumannya, ia pamit untuk makan.

Pesanku cuma satu padanya, "Makannya hati-hati ya. Jangan keselek."

"Iya." Katanya diiringi tawa, "Senang ditelpon kamu, Umi." suaranya seperti mengejar sesuatu.

Pengen balas, senang juga bisa menelepon Anda, tapi kok ga keluar ya? Akhirnya cuma ucapan salam yang berbalas, mengakhiri bincang kami malam ini.

Dari dalam hati. Kadang pengen teriak. Kapaaan ... bisa bilang seirus pada hati dan pikiran untuk tujuan itu? Kapan? Kapan mau bangkit? Kapan ga setengah-setengah jalani kegiatan?

Kapan?
Aku tanya.
Dan aku tak menjawab.

Taipei, 10 Dzulhijjah 1434H


0 komentar:

Post a Comment

Followers

 

©Copyright 2011 Rumah Ramata | TNB