Lelaki Terkaya di Hidupku II

Saturday, April 5, 2014 0 komentar
Lelaki itu perlahan melepaskan pelukannya. Ada sesuatu dalam tulang rusuknya yang seolah ingin meledak di sana. Aku rasakan getaran yang tak halus lagi.

Ia menunduk menghitung bebutir pasir di jejakan sepatu kami. Matanya lekat seperti sujud pada ketidaktahuan kata-kata.

Aku diam lagi, sementara semilir angin kian bergesekkan dengan dawai biola. Biola bening yang tergeletak misteri di antara kami berdua. Ia menjadi saksi, sekaligus menjadi penawar luka. Luka? Entah kenapa, nada yang ia keluarkan begitu menyayat. Ia seolah membawa berpuluh samurai yang tak lagi putih, tapi penuh karat lalu mengiris perlahan-lahan tubuhku.

Ia terus menggesek dawai, seiring samurai tumpul berkarat memotong beberapa bagian tubuhku. Jeritku tenggelam. Aku dan lelakiku bisu.

Tak ada air mata. Ia bilang, "Maafkan aku, esok aku akan menikah. Bukan denganmu yang membuatku merasa menjadi lelaki terkaya di dunia ini. Bukan denganmu yang selama ini aku nanti di setiap waktu tidurku."

Aku teriak. Sungguh. Tak dengarkah kau, wahai lelakiku? Kenapa kau diam saja?

Aku perlahan mengambil sebuah samurai berkarat itu dengan tangan kiriku yang masih utuh. Aku berhadapan dengannya lalu menciumkan matanya pada dada sebelah kiriku. Aku rela. Seperti para ninja dengan harakirinya tanpa penyesalan.

Cepat. Tapi aku tak ambruk. Tak ada darah. Tak ada air matanya.

"Iya, kita memang bertemu dalam mimpi. Dan mimpi-mimpi itulah yang membuat kita mampu berdiri di sini. Dan sekarang karena mimpi pula. Kita berpisah. Semua dari mimpi. Kita cuma mimpi." Aku berbisik pada angin agar ia bisa kembali menarik sebuah nada yang mampu membunuhnya. Membunuh lelaki terkaya dalam hidupku itu. Agar ia hilang dan tetap menjadi mimpi tanpa pernah nyata kembali.

Lelakiku terbawa angin. Perlahan bening. Pecah di udara. Lelakiku punah.


0 komentar:

Post a Comment

Followers

 

©Copyright 2011 Rumah Ramata | TNB